Strategi Marketing Pedagang Salak dari Jogja

oleh-oleh dari Jawa
Supriyadi

Ketika bus berhenti disebuah teminal, seorang pedagang memanggul sekarung punuh berisi buah salak naik ke bus yang saya tumpangi.

Kesan Pertama Begitu Menggoda
Baju sederhana, jenggot tipis, tanda bekas sujud dan wajah sumringah serta tutur kata santun, grapyak lan sumanak (ramah maksudnya) itulah yang nampak dari pedagang yang satu ini. Dengan santun dia meminta izin ke sopir dan kondektur untuk menggelar dagangannya di dalam bus.

Belum terjual sudah berinfak
Inilah yang berbeda dengan pedagang lainnya, setelah menurunkan sekarung dagangannya yang pertama dia lakukan adalah mengambil sekantong plastik/kresek/asoi penuh salak spesial untuk sopir dan kondektur sambil berkata "monggo pak sopir dicicipi salak pondoh asli, manis"

Strategi promosi yang mantab, full promise
"Monggo Bapak, Ibu dicicipi rumiyen  salak pondoh asli, mboten tumbas mboten nopo-nopo" (mari Bapak ibu dicicipi dulu salak pondoh asli, tidak beli tidak apa-apa) katanya sambil membagi salak pondohnya keseluruh penumpang bus. Setelah selesai memberi setiap penumpang satu buah salak untuk dicicipi kemudian mulailah dia menawarkan dagangannya. Ketika ada yang masih ragu-ragu dia memberi sebuah salak lagi untuk dicicipi.

Total Quality Management
"Bapak, Ibu monggo beli salak pondoh asli untuk oleh-oleh, dijamin manis, tidak usah ragu karena semua sudah diseleksi besar-kecil rasanya sama". Pedagang ini nampaknya sudah tahu betul keraguan calon pembeli tentang kualitas salak dagangannya, mungkin kita pernah mengalami membeli salak yang ternyata asam dan sepet. Maka dia menyeleksi barang dagangannya sehingga terjamin kualitasnya, terbukti tidak satupun penumpang yang protes tentang rasa salaknya.
Hasilnya sampai kursi belakang sekarung salak dagangannya ludes terjual.

Diakhiri dengan berinfak lagi
Sebelum turun dari bus pedagang salak ini memberikan uang Rp 15.000,-(setara 30 buah salak) untuk pak sopir dan kru. Baru kali ini saya melihat pedagang asongan seperti ini, memulai dan mengakhiri berdagang dengan berinfak. Sopir juga kelihatan senang sekali dengan pedagang yang satu ini,terbukti dari pembicaraan dengan kru nya setelah pedagang itu turun.

Pembaca yang budiman, dari kisah nyata diatas kita dapat mengambil hikmah yang besar. Untuk sukses dalam bisnis marketing kita dapat mencontohnya. Mumulai dengan kebaikan, strategi promosi yang tepat, total quality management, sikap ramah dan selalu bersyukur serta infak adalah kunci keberhasilan dalam pemasaran. Wallahu a'lam