Terbelit Utang Riba Ratusan Juta, Bagaimana Cara Melunasinya?

Bagaimana cara melunasi utang riba ratusan juta rupiah? Ini jumlah yang begitu banyak. Namun demikianlah sebagian orang gemar berutang, bahkan memiliki kartu kredit yang begitu banyak yang berisi utang ratusan juta rupiah.

Yang Namanya Utang Tidak Mengenakkan

Kami selalu ingatkan bahwa utang itu tidak mengenakkan hidup. Hidup jadi tidak tenang. Apalagi jika utang sudah menumpuk dan terus dikejar debt collector. Pasti tidur dan istirahat jadi tidak mengenakkan dan tidak tenang. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
“Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078 dan Ibnu Majah no. 2413. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Asy Syaukani berkata, “Hadits ini adalah dorongan agar ahli waris segera melunasi utang si mayit. Hadits ini sebagai berita bagi mereka bahwa status orang yang berutang masih menggantung disebabkan oleh utangnya sampai utang tersebut lunas. Ancaman dalam hadits ini ditujukan bagi orang yang memiliki harta untuk melunasi utangnya lantas ia tidak lunasi. Sedangkan orang yang tidak memiliki harta dan sudah bertekad ingin melunasi utangnya, maka ia akan mendapat pertolongan Allah untuk memutihkan utangnya tadi sebagaimana hal ini diterangkan dalam beberapa hadits.” (Nailul Author, 6: 114).
Bentuk jelek lainnya yang timbul dari banyak berutang, yang namanya utang mengajarkan orang untuk mudah berbohong. Dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ » . فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ قَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ .
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a di dalam shalat: Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang).” Lalu ada yang berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan dari utang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Jika orang yang berutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (HR. Bukhari no. 2397 dan Muslim no. 589).
Al Muhallab mengatakan, “Dalam hadits di atas terdapat dalil tentang wajibnya memotong segala perantara yang menuju pada kemungkaran. Yang menunjukkan hal ini adalah do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berlindung dari utang dan utang sendiri dapat mengantarkan pada dusta.” (Syarh Al Bukhari karya Ibnu Baththol, 12: 37).
Realita yang ada itulah sebagai bukti. Orang yang berutang seringkali berdusta ketika pihak kreditur datang menagih, “Kapan akan kembalikan utang?” “Besok, bulan depan”, sebagai jawaban. Padahal itu hanyalah dusta dan ia sendiri enggan melunasinya.

Cara Melunasi Utang Riba

Berikut adalah beberapa kiat yang bisa kami utarakan dan semoga bermanfaat.

1- Taubat dari riba

Agar mudah mendapatkan pertolongan Allah, harus mengakui bahwa berutang dengan cara riba adalah dosa. Bahkan pelakunya atau nasabah utang riba terkena laknat. Dari sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1598).
Kalau demikian yang pertama dilakukan adalah bertaubat. Taubat yang sungguh-sungguh adalah bertekad tidak ingin meminjam uang dengan cara riba lagi. Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan taubat yang tulus,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At Tahrim: 8)
Hudzaifah pernah berkata,
بحسب المرءِ من الكذب أنْ يقول : أستغفر الله ، ثم يعود
“Cukup seseorang dikatakan berdusta ketika ia mengucapkan, “Aku beristighfar pada Allah (aku memohon ampun pada Allah) lantas ia mengulangi dosa tersebut lagi.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 411).
Ibnu Rajab Al Hambali berkata, “Terlarang seseorang mengucapkan ‘aku bertaubat kepada Allah’ lantas ia mengulangi dosa tersebut kembali. Karena taubat nashuha (taubat yang sejujurnya) berarti seseorang tidak mengulangi dosa tersebut selamanya. Jika ia mengulanginya, maka perkataannya tadi ‘aku telah bertaubat’ hanyalah kedustaan.” (Idem).
Namun menurut mayoritas ulama berpendapat bahwa sah-sah saja seseorang mengatakan aku telah bertaubat, lalu ia bertekad tidak akan melakukan maksiat itu lagi. Kalau ia mengatakan, “Aku tidak akan mengulangi dosa tersebut lagi”, maka itulah yang ia tekadkan saat itu. (Idem)
Yang terpenting adalah tekad tidak akan berutang dengan cara riba lagi.

2- Perbanyak istighfar karena memohon ampun pada Allah itulah yang akan memudahkan rezeki

Terdapat sebuah atsar dari Hasan Al Bashri rahimahullah yang menunjukkan bagaimana faedah istighfar yang luar biasa.
أَنَّ رَجُلًا شَكَى إِلَيْهِ الْجَدْب فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر الْفَقْر فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر جَفَاف بُسْتَانه فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، وَشَكَى إِلَيْهِ آخَر عَدَم الْوَلَد فَقَالَ اِسْتَغْفِرْ اللَّه ، ثُمَّ تَلَا عَلَيْهِمْ هَذِهِ الْآيَة
“Sesungguhnya seseorang pernah mengadukan kepada Al Hasan tentang musim paceklik yang terjadi. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.
Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kemiskinannya. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.
Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau tentang kekeringan pada lahan (kebunnya). Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.
Kemudian orang lain mengadu lagi kepada beliau karena sampai waktu itu belum memiliki anak. Lalu Al Hasan menasehatkan, “Beristigfarlah (mohon ampunlah) kepada Allah”.
Kemudian setelah itu Al Hasan Al Bashri membacakan surat Nuh,
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ) 12(
“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12). (Riwayat ini disebutkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 11: 98)
Jadi, istighfar adalah pembuka pintu rezeki dan pembuka jalan agar terlepas dari utang yang memberatkan.

3- Jual aset tanah, rumah atau kendaraan

Sebagian orang sebenarnya punya aset yang berharga dan itu bisa digunakan untuk melunasi utang riba ratusan juta. Namun karena saking hasratnya tetap harus memiliki harta jadi utang tersebut terus ditahan. Padahal jika tanah, rumah atau kendaraan sebagai aset yang ia miiki dijual, maka akan lunas semua utangnya. Ingatlah, orang yang serius untuk melunasi utangnya akan ditolong oleh Allah. Sebaliknya yang enggan lunasi padahal punya aset dan mampu melunasi, tentu akan jauh dari pertolongan Allah.
Dulu Maimunah ingin berutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan, “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan, “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kholil-ku (kekasihku) shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا
“Jika seorang muslim memiliki utang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi utang tersebut, maka Allah akan memudahkannya untuk melunasi utang tersebut di dunia”. (HR. Ibnu Majah no. 2399 dan An Nasai no. 4686. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih kecuali lafazh “fid dunya” -di dunia-)
Juga terdapat hadits dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ
“Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berutang (yang ingin melunasi utangnya) sampai dia melunasi utang tersebut selama utang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Jadi, orang yang serius melunasi utangnya akan ditolong oleh Allah.

4- Lebih giat lagi untuk bekerja

Dengan makin kiat bekerja dan terus memperhatikan nafkah keluarga, maka Allah akan memberikan ganti dan memberikan jalan keluar. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا ، وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
“Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 1010)

5- Bersikap lebih amanat

Semakin kita amanat, maka semakin orang akan menaruh kepercayaan kepada kita. Semakin tidak amanat, maka kita sendiri yang akan mendapatkan kesusahan. Itu realita yang terjadi di tengah-tengah kita. Kalau dalam masalah utang, kita bersikap amanat dalam mengembalikannya, maka tentu orang akan terus menaruh rasa percaya dan bisa saja tidak dikenakan riba saat peminjaman.
Sifat amanah dalam berutang sudah barang tentu wajib dimiliki. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْتَمَنَكَ
”Tunaikanlah amanat kepada orang yang menitipkan amanat padamu.” (HR. Abu Daud no. 3535 dan At Tirmidzi no. 1624, hasan shahih)

6- Bersikap hidup lebih sederhana dan qana’ah

Dengan bersikap hidup sederhana kala terlilit utang, maka akan mengurangi pengeluaran dan akhirnya lebih diprioritaskan pada pelunasan utang. Sifat qana’ah yaitu merasa cukup dan bnar-benar bersyukur dengan rezeki yang Allah beri sunggu akan mendatangkan kebaikan. dari ’Abdullah bin ’Amr bin Al ’Ash, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلاَمِ وَرُزِقَ الْكَفَافَ وَقَنِعَ بِهِ
“Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam Islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

7- Perbanyak doa yang dicontohkan Rasul

Ada dua doa yang bisa membantu agar terlepas dari sulitnya utang.
a- Doa agar tidak terlilit utang
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ
Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom [Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan sulitnya utang] (HR. HR. Bukhari no. 2397 dan Muslim no. 589).
b- Doa agar lepas dari utang sepenuh gunung
Dari ‘Ali, ada seorang budak mukatab (yang berjanji pada tuannya ingin memerdekakan diri dengan dengan syarat melunasi pembayaran tertentu) yang mendatanginya, ia berkata, “Aku tidak mampu melunasi untuk memerdekakan diriku.” Ali pun berkata, “Maukah kuberitahukan padamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya padaku yaitu seandainya engkau memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah doa,
اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Allahumak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa agh-niniy bi fadhlika ‘amman siwaak” [Artinya: Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu] (HR. Tirmidzi no. 3563, hasan menurut At Tirmidzi, begitu pula hasan kata Syaikh Al Albani)

8- Meminjam uang pada orang lain untuk melunasi utang riba

Dalam Liqa’ Al Bab Al Maftuh (194: 12), Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata, “Setiap orang wajib berlepas diri dari riba tersebut sesuai dengan kemampuannya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat pemakan riba (rentenir) dan orang yang menyerahkan riba (nasabah). Boleh jadi dia meminta pinjaman utang dari saudara atau kerabatnya untuk melunasi utang bank tersebut agar gugur darinya riba. Yang terpenting adalah dia harus tetap merencanakan hal ini. Jika tidak mungkin, maka dia berusaha meminta pada bank agar jangan ada lagi tambahan riba. Akan tetapi setahu kami, bank tidak mungkin menyetujui hal ini.”
Tentu saja pinjaman tersebut bisa diperoleh jika kita punya sifat amanat dan bisa mendapatkan kepercayaan dari orang lain.
Hanya Allah yang memberi taufik.
—
Selesai disusun @ Darush Sholihin, malam 5 Safar 1436 H
Yang senantiasa mengharapkan bimbingan Rabbnya: Muhammad Abduh Tuasikal, MSc
Artikel Rumaysho.Com


Sumber : https://rumaysho.com/9681-terbelit-utang-riba-ratusan-juta-bagaimana-cara-melunasinya.html

CARA KELUAR DARI HUTANG RIBA

Bismillahirrahmanirrahiim.
Assalamu’alaikum Aisyah!
Kali ini topik kita adalah tentang HUTANG RIBA. Saya akan memulai dari cerita saya sendiri.
Mungkin saya bukan ahli dalam bidang ini. Namun semoga ada yang dapat mengambil manfaat dari pengalaman yang alhamdulillah sudah terlewati.
Adakah disini yang memiliki hutang ke bank? Lalu kemudian lelah untuk terus bekerja yang akhirnya akan disetorkan untuk membayar cicilan? Dan yang terparah adalah kok ternyata saya bayar hanya bunganya saja? Pokoknya tetep segitu-segitu aja?
Alhamdulillah saya pernah, tepatnya adalah keluarga saya. Yang akhirnya saya  harus ikut-ikutan merasakan pahitnya akibat dari hutang tersebut. Bukannya bermaksud untuk membuka aib keluarga, namun sekali lagi, semoga ada yang dapat mengambil manfaatnya. Dan segera TINGGALKAN HUTANG RIBA SEKARANG JUGA, karena ini benar-benar bahaya.
Sebagaimana bahayanya? Semoga teman-teman belum mengalami sampai seperti cerita dibawah ini.
———————————————————————————————————————————
Beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 2005. Saat itu saya masih SMP. Ayah saya meninggal saat saya berusia 3 tahun, berarti sudah sekitar 10 tahun ummuku menjalankan perusahaan kayu peninggalan ayah. Alhamdulillah usaha tersebut cukup maju.  Sehingga berdatanganlah para marketing bank untuk menawarkan pinjaman dengan iming-iming memperbesar scaleperusahaan. Beberapa kali ditawari, akhirnya ummuku tergoda untuk mengambil penawaran tersebut dalam jumlah yang cukup besar. Disini awal mula semuanya berubah.
Oke, tadi logikanya untuk “Memperbesar scale Perusahaan” ya. Namun kemudian apa yang terjadi? Dalam waktu 8 tahun, perlahan tapi pasti. Hutang tersebut berhasil menarik semua aset hingga akhirnya gulung tikar sepenuhnya. Berawal dari satu persatu cabang ditutup, mesin-mesin dijual, mobil dijual dan yang terakhir perusahaan pusat resmi gulung tikar pada tahun 2013 dan hutang masih segitu-segitu aja. Sedih T,T
Adakah yang mengherankan disini? Mungkin secara logika, “yah itu mah nggak bener aja jalanin usahanya” Mungkin bisa saja seperti itu. Tapi kenyataanya. Usaha memang lancar saja pada awalnya. Sangat sibuk dalam beberapa tahun. Namun selalu ada saja hal atau musibah yang menyebabkan kita harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang besar melebihi dari apa yang kita hasilkan. Setiap tahun. Hingga akhirnya ummuku berfikir “Neng usaha teh besar. Tapi kenapa yang kebutuhan kita sulit untuk tercukupi.”
Belakangan ini, saya baru tahu ternyata itu adalah akibat dari ketidakberkahan suatu usaha. Penghasilan besar, usaha sibuk dan melelahkan, tapi seakan ada kekuatan yang besar, yang tidak mengizikan kita untuk menikmati hasil usaha tersebut.
2013 kami tidak dapat mempertahankan perusahaan, hutang membumbung dan tidak ada penghasilan sama sekali. Bayangkan saja. Sampai akhirnya kami kelelahan. Disitulah titik dimana kami banyak belajar.  Hingga saat ini saya tak henti-hentinya bersyukur diberikan pengalaman berharga ini.
2 tahun ini adalah proses yang cukup berat. Awalnya gali lobang tutup lobang untuk menutupi hutang yang satu dengan hutang yang lain. Tapi saat itu kami lakukan. Hutang malah jadi semakin besar dan masalah tidak selesai. Orang-orang berubah. Hingga Ummuku merasakan yang namanya tidak dipercayai orang lagi. Karena kami benar-benar seringkali tidak dapat membayar hutang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Dan memang dikatakan dalam Hadist Bukhari no.2397. Rasulullah bersabda “Orang yang berhutang memiliki 3 penyakit, yaitu: Jika berkata dia seringkali berdusta, Jika dipercaya dia seringkali mengkhianati dan jika berjanji dia seringkali mengingkari.” Ini bukan hanya sekedar hadist. Tapi memang begitu. Allah tidak memampukan orang yang berhutang dan mengandalkan hutang hingga efeknya penyakit itu benar-benar terjadi. Serem yah T,T.
Saat seperti inilah. Yang membuat kami tersungkur. Mengakui tiada daya dan upaya yang dapat kami lakukan selain dari adanya pertolongan Allah. Tak ada lagi yang dapat kami usahakan. Akhirnya kamipun PASRAH. Menyerahkan semuanya pada Allah dan BERTAUBAT. Lalu bertekad tidak akan berhutang lagi. Sekalipun dalam kondisi terjepit.
Saat itu kami berhenti untuk berhutang dalam kondisi apapun dan berusaha keras untuk bertahan hidup dengan apapun yang Allah berikan. Serta berkeinginan kuat untuk melunasi hutang dengan mengeluarkan apapun yang kami miliki. Walaupun itu adalah rumah tinggal satu-satunya peninggalan ayah.
Namun, menjual rumah tidak semudah menjual permen. Selama proses penjualan, Keputuasan kami ini benar-benar diuji dengan kesusahan. Saat penagih-penagih itu datang. Kami meminta maaf karena belum ada uang untuk membayar. Kami terima semua respon yang datang. Kami telan semua kata-kata dan kekecewaan. Kami sadar, itu harga yang harus kami bayar karena ulah kami sendiri. Kami telah lalai dari menjaga keberkahan harta. Allah telah memberikan rezeki yang baik. Tapi kami merusaknya dengan keserakahan dan khayalan akan kesuksesan yang lebih besar. Padahal semua rezeki Allah yang mengatur. Allah yang punya. Saat Allah ga ridho. Mudah sekali untuknya mengambil semuanya tak tersisa. Bahkan tubuh ini dan apapun yang kami anggap milik kami hanyalah titipan. Seringkali logika membuat kita bodoh. Padahal jika kita berfikir dengan nurani. Sungguh semua aturan dalam islam yang telah ditetapkan adalah solusi dari semua persoalan hidup. Jika kita benar-benar menaatinya. Tak akan ada masalah kecuali itu adalah ujian untuk menaikan level diri. 
Setelah bertaubat dan bertekad kuat itu. Justru Allah mencukupkan kami dalam hal apapun kecuali untuk pembayaran hutang itu. Untuk kebutuhan dan segala macamnya Allah penuhi melalui perantara banyak hal yang justru membuat kami merasa unlimited. Setiap butuh, Allah kasih, setiap butuh Allah kasih. Kecuali saat pembayaran hutang. Itu yang membuat kami terus menjerit setiap malam.
“Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom”
(Ya Allah lindungi kami dari berbuat dosa dan banyak hutang).
Kami takut saat kami meninggal, kami masih mempunyai hutang. Karena hutang adalah salah satu dosa yang terbawa hingga mati dan jika tidak terbayar di dunia. akan sangat berabe di akhirat. Saat itu, tak ada keinginan apapun kecuali terbayarnya hutang tersebut.
Hingga akhirnya beberapa bulan yang lalu. Allah benar-benar memperlihatkan pertolongannya. Hutang terlunasi semua Alhamdulillah dan Allah menitipkan rezeki yang lebih dari cukup untuk kita memulai semuanya lagi dari awal.
____________________________________________________________________________
Hal ini kami lakukan karena kebodohan kami. Yang tidak mengetahui betapa hutang riba sangatlah berbahaya. Membuat gelisah dan dijauhkan dari kecukupan dan keberkahan. Kami merasakan itu selama 9 tahun tapi ga sadar dan sangat terasa perbedaannya seketika setelah kami bertaubat.
Maka jika ada pengusaha yang bilang “Kalau belum berhutang bukan pengusaha namanya”. Jangan percaya. Bagaimana bisa maju? belum mulai usaha saja, caranya sudah salah. Yang maju saja, mudah bagi Allah untuk menjungkir balikkan. Apalagi yang baru mau mulai. hihii” Yakinlah bahwa kenikmatan terbesar seorang manusia adalah ketenangan. Ketenangan dan kebahagiaan didapat dari keberkahan. Keberkahan didapat dari Ridho-Nya Allah terhadap apa yang kita lakukan.
Hidup pas-pasan lebih  baik dari pada bergelimang harta namun dari hasil riba.
Jika ada seseorang yang terlihat sukses dari hasil riba. Takutlah. Takutlah ketika Allah membiarkan kita dalam perbuatan dosa. Tidak ditegur, tidak diingatkan. Sampai akhirnya tutup usia kita. Kita tidak menyadari kalau kita berdosa. Naudzubillah.
Saya share ini karena melihat fenomena saat ini yang sepertinya hutang riba adalah hal yang biasa saja.  Seperti kartu kredit, KPR, leasing kendaraan dan lain-lainnya. Wallahu’alam.
Maka, jika ada seseorang yang sedang berhadapan dengan riba (hutang/kredit). Sebaiknya keluarkan semua hal yang kita miliki untuk menutupinya. InsyaAllah rezeki Allah lebih baik dari hal yang kita ketahui. Sebelum Allah menutup pintu hati kita dan menjebak kita dalam hutang yang tak dapat kita lunasi. Karena sesungguhnya Allahlah yang melunasi hutang tersebut karena melihat niat kita.
Jika hutang dibayar dengan hutang lagi. Dimana letak niat itu?
Yang sudah terjerat hutang, jangan berputus asa dari Rahmat Allah. Allah Maha Pengampun. Resapi hadist ini. “Jika seorang muslim memiliki hutang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat untuk melunasi hutang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi hutang tersebut di dunia.” (HR. Ibnu Majah no. 2399)
Kesimpulannya. Jika kita terjebak dengan hutang riba dan ingin keluar darinya. Usaha yang dapat kita lakukan adalah:
  1. BERTAUBAT dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
  2. KUATKAN NIAT dan maksimalkan ikhtiar untuk membayarnya dengan usaha apapun yang kita bisa.
  3. Tinggalakan atau keluarkan barang yang diperoleh dari hasil meriba.
  4. BERSERAH pada Allah. Meminta Allah membantu kita dan percayalah kita tak bisa melakukan apapun kecuali atas Ridho Allah. Maka berusahalah sebaik mungkin dihadapan Allah untuk melunasi hutang tersebut. Allah akan melihat dan Allah yang akan memudahkan.
  5. Bersedekah semampu kita.
  6. Berdo’a dan mintalah Allah melunasi di waktu yang tepat. Ketika Allah benar-benar sudah memaafkan dosa kita.
Pengalaman yang berat. Namun saya bersyukur karena Allah masih menegur saya hingga saya dapat berfikir dan kembali pada-Nya. Serem juga, jika saya riba lalu Allah membiarkan saya. Tidak menegur bahkan menambah rezeki saya dari hasi riba tersebut yang akhirnya saya sulit untuk terlepas darinya. Na’udzubillah mindzalik.
Bukan banyaknya harta yang membuat kita bahagia. Namun keberkahannyalah yang seharusnya kita cari. Karena darisitu kebahagiaan bermulai.
Jika ada yang tidak setuju dengan tulisan ini, saya mohon maaf, Karena tulisan ini ditulis dari hasil pemikiran yang dangkal dan mungkin tak berlogika. Namun bagi yang percaya. Silahkan buktikan. Percayalah usaha terbesar kita, tak akan sekuat izin Allah dalam mengabulkan doa yang tulus dengan niat yang lurus karena Takut kepada Allah dan  mengingikan ridho Allah.  Wallahu’alam.
Semoga bermanfaat.