7 Hari di Gaza Bersama Pejuang Hamas

Oleh: Sunaryo Adhiatmoko (GAZA)

Ini hari ketujuh, saya berbaur dengan warga korban agresi Israel di Gaza, (2 Februari 2009). Satu hari saya di Rafah, enam hari sampai sekarang saya bertahan di Jabalia Gaza Utara. Saya melihat Gaza masih utuh, yakni semangat juang rakyat dan cara bertahannya. Gaza masih kukuh, meski blokade Israel makin menggila.

Meski spirit warga Gaza terus membara, secara fisik Gaza porak poranda. Permukiman penduduk, sekolah, masjid, dan pusat pemerintahan hancur total. Kerusakan terhebat dialami di Rafah, Khanyounis, Bayt Lahia, Bayt Hanun, dan Jabalia. Tetapi roda pemerintahan berderak tak terbendung. Pemerintahan resmi Hamas, tetap menjalankan perannya dengan baik. Tanpa kantor, apara kepolisian dan keamanan tetap beroperasi. Di Rafah misalnya, meski kantor polisi dihancurkan rudal dan bom Israel, mereka tetap berkantor di jalanan dengan absensi selembar kertas. Bahkan mereka sempat menangkap lima orang pengedar narkotika dari Mesir dan Israel.

Kesederhanaan Sang Bintang "Ketika Cinta Bertasbih"

Khairul Azzam, bintang dalam film Ketika Cinta Bertasbih (KCB), nunggang motor bebek jadul yang sudah berumur 10 tahun. Lakon ini, tentu tak ada dalam seting film produksi Sinema Art yang tengah merajai bioskop di tanah air itu. Tapi hadir, dalam kehidupan nyata pemeran Azzam, Cholidi Asadil Alam.
Dia sosok yang bersahaja, murah senyum, dengan pengetahuan agama yang cukup baik. Bintangnya tengah bersinar di langit tinggi, tapi pemuda kelahiran Pasuruan 1989 itu, tetap merunduk ibarat padi. Cholidi, tetaplah dirinya yang santun bertutur dan tampil apa adanya.

Selasa lalu, seperti hari-hari biasanya, ia menyusuri Jakarta yang padat, dengan motor warisan kakaknya yang dibawa langsung dari Pasuruan, Jawa Timur. Motor bebek yang diproduksi tahun 2000-an, dengan bentuk yang tak lagi rapi. Tapi, motor itu tetap menemani Cholidi menghadiri berbagai event yang terkait film KCB. Meski pertemuan di tempat-tempat elit, Cholidi tetap setia mengajak motornya.