Keagungan Shadaqah

Sarana Untuk Membersihkan Harta dan Menyucikan Hati
Perhatikanlah Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,
“Ambillah shadaqah (zakat) dari sebagian harta mereka, dengan shadaqah (zakat) itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103)
Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Membersihkan mereka” adalah membersihkan mereka dari dosa-dosa dan sifat bakhil. Sedangkan “menyucikan mereka” yaitu mengangkat derajat mereka kepada derajat mukmin dan mukhlis. (Riyadhush Shalihin)
Merupakan Karakter Orang yang Bertaqwa dan Orang yang Ihsan (Muhsin)
Perhatikanlah Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan (muhsin).” (QS. Ali Imron: 133-134)
Shadaqah Sarana Penghapus dan Pelebur Dosa
Shadaqah Sarana untuk Mening-gikan Derajat
Merupakan Ciri Khas Seorang Mukmin
Perhatikanlah Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Rabbnya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfaal: 2-4)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shodaqoh adalah bukti.” (HR Muslim). Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Shadaqah Adalah Bukti” Artinya adalah bukti dari kejujuran iman dan keikhlasan seseorang dengan bershadaqah.
Shadaqah Berarti Memberikan Pinjaman kepada Allah, Maka Pinjaman tersebut Pasti Allah Kembalikan dengan Berbagai Macam Cara
Perhatikanlah firman Allah subhanahu wata’ala artinya,
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (yaitu menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipatgandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) serta kepada-Nya kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245)
Silahkan periksa juga firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat Al-Hadiid: 18 dan surat At-Taghaabun: 17.
Shadaqah termasuk Berjihad dengan Harta
Perhatikanlah Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (QS. At-Taubah: 20)
Shadaqah Mendatangkan Keberuntungan dan Kemudahan di Dunia dan di Akhirat
Perhatikanlah Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,
“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarlah dan taatlah; serta nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun: 16)
Firman Allah subhanahu wata’ala dalam ayat yang lain, artinya,
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5-8)
Orang yang Bershadaqah Mendapat Naungan Allah subhanahu wata’ala Pada Hari Kiamat
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan hal itu sebagaimana terdapat dalam hadits yang bersumber dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berikut ini, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.” Beliau menyebutkan salah satunya adalah seorang yang bershadaqah secara diam-diam (sembunyi), sehingga apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya tidak diketahui oleh tangan kirinya. (Muttafaqun ‘Alaihi)
Shadaqah Itu Sendiri Juga Akan Menaungi Seseorang di Hari Kiamat
Yazid Bin Abi Habib menceritakan bahwa Abu Khair bercerita: bahwa sesungguhnya dia pernah mendengar Uqbah Bin Amir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap orang akan berada di bawah naungan shadaqahnya (pada hari Kiamat), sehingga diputuskan perkara terhadap manusia atau ditegakkan hukum di antara manusia.”
Yazid berkata, “Abu Khair setiap kali dia berbuat kekhilafan, maka dia akan bershadaqah (untuk menutupi kesalahannya tersebut) meskipun hanya dengan sepotong kue atau sebutir bawang atau yang lainnya.” (Ahmad: 16695, dishahihkan oleh Syekh Al-Albani)
Shadaqah Menjadi Penghalang dan Penghijab Seseorang dari Neraka
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar ke tanah lapang pada hari Raya Qurban atau Fitri, kemudian selesai melaksanakan sholat beliau khutbah, di dalam nasehatnya kepada manusia, beliau memerintah-kan mereka untuk bershadaqah, seraya bersabda, “Wahai sekalian manusia bershadaqahlah kalian,” lalu beliau melewati kaum wanita, seraya bersabda, “Wahai kaum wanita bershadaqahlah kalian karena saya melihat kebanyakan penghuni neraka adalah dari kalian.” (HR. Al-Bukhari)
Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari ‘Adi Bin Hatim radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Takutlah kalian kepada api nereka walau hanya bershadaqah dengan setengah butir korma.” (HR. Al-Bukhori)
Memberikan Menu Berbuka kepada Seorang yang Berpuasa, Maka Mendapatkan Pahala Seperti Orang yang Berpuasa Tersebut
Hal ini dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Zaid Bin Khalid Al-Juhaimi radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, “Barangsiapa yang menyediakan menu untuk berbuka puasa bagi seorang yang puasa, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala yang diperoleh oleh orang berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu ‘Isa berkata, “Hadits ini hasan shahih)
Shadaqah yang Diiringi dengan Puasa, Perkataan Baik dan Shalat Malam akan Memuluskan Jalan Seseorang ke Surga
Tentang hal ini perhatikanlah hadits yang bersumber dari Nu’man Bin Sa’ad, beliau meriwayatkan dari Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, “Sesungguhnya di dalam surga ada ruangan-ruangan yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar”, lalu seorang badui bertanya, “Untuk siapa ruangan-ruangan itu wahai Rasulullah?” Lalu beliau menjawab, “Untuk siapa saja yang berkata baik, memberi makanan, selalu berpuasa dan melakukan qiyamul lail (sholat malam) sedang orang-orang dalam keadaan tidur.” (HR. At-Tirmidzi dan Abu ‘Isa berkata: hadits hasan gharib)
Shadaqah Mendatangkan Keberkahan karena Do’a Malaikat untuk Sang Dermawan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,
“Tiada suatu hari yang dilewati oleh hamba-hamba Allah kecuali ada dua malaikat yang turun, salah satunya berdo’a, “Ya Allah berikanlah ganti kepada seorang yang dermawan”, dan yang satunya lagi berdo’a,” Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang yang kikir.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Harta Tidak Akan Berkurang karena Dishadaqahkan, Justru Allah Menyuburkannya
Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shodaqoh. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)
Perhatikan juga hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shadaqah tiada akan mengurangi harta.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Kuzaimah)
Shadaqah Dapat Meredam Murka Allah Sekaligus Menghantarkan Seseorang untuk Memperoleh Husnul Khatimah
Diriwayatkan dari Anas Bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda, “Sesungguhnya shadaqah itu dapat meredam murka (kemarahan) Rabb (Allah) dan shadaqah itu dapat menghindarkan seseorang dari kematian su’ul khotimah.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban). Abu ‘Isa berkata: hadits ini hasan gharib.
Bershadaqah Walau Sekecil Apa pun, Nilainya Tetap Besar di sisi Allah
Dari Asma` radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, Saya berkata (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam): “Ya Rasulullah! Saya tidak memiliki harta kecuali apa yang diberikan suamiku Zubair kepadaku, apakah saya juga bershadaqah?” Beliau menjawab, “Bersadaqahlah dan janganlah engkau terlalu memperhatikannya (memperhatikan kwantitasnya), sebab Allah tetap memberikan perhatian-Nya kepadamu.” (HR. Al-Bukhari dan Ibnu Hibban)
Allah subhanahu wata’ala Membebaskan Seseorang dari Kesulitan di hari Kiamat yang Membebaskan Orang yang Berhutang
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dahulu ada seorang laki-laki yang biasa memberikan hutang orang-orang, lalu dia berkata kepada pembantunya, “Jika engkau melihatnya kesulitan, maka bebaskanlah hutangnya, mudah-mudahan dengan hal itu Allah membebaskan kita (dari azab-Nya).” Beliau berkata, “Ketika dia meninggal dunia, maka Allah membebaskannya (dari azab-Nya).” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan lain-lain)
Melapangkan Dada dan Menentramkan Hati.

Bersegeralah Sebelum Hilang Kesempatan!

Setiap orang yang menyia-nyiakan hidupnya pasti akan menyesal ketika datang sakaratul maut. Dia akan meminta diperpanjang usianya, walau hanya sebentar, agar dapat mengejar sesuatu yang luput darinya. Bagaimana mungkin bisa, sedangkan yang lalu telah berlalu, dan kini telah datang sesuatu yang lain. Dan setiap orang akan menyesal sesuai dengan kadar kelalaiannya karena menyia-nyiakan kesempatan. Bagi orang kafir, Allah telah menfirmankannya;
وَأَنْذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُوا رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ نُجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ أَوَلَمْ تَكُونُوا أَقْسَمْتُمْ مِنْ قَبْلُ مَا لَكُمْ مِنْ زَوَالٍ
“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang dzalim: “Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul. (Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?.” (QS. Ibrahim: 44)
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al Mukminun: 99-100)
Dan setiap orang akan menyesal sesuai dengan kadar kelalaiannya karena menyia-nyiakan kesempatan.
Namun, Allah sudah membuat ketetapan yang tak akan dirubah-Nya,
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al A’raf: 34)
Bagi orang beriman yang suka menunda-nunda amal shalih sehingga datang kematian, maka Allah firmankan.
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?” (QS. Al Munafiqun: 10)
Lalu Allah menjawab, bahwa Dia tidak akan memberi tangguh kepada seseorang jika sudah tiba ajalnya.
وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya.” (QS. Al Munafiqun: 11) karena Allah mengetahui siapa yang benar dalam ucpannya, maka ia akan dibalas sesuai amal dan niatnya.
“Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” perkataan orang kafir ketika datang kematiannya
Diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi, dari Ibnu Abbas rahimahullah, berkata: “barangsiapa yang memiliki harta yang sudah bisa menyampaikannya untuk berhaji ke Baitullah atau mewajibkannya zakat, tapi tidak juga melaksanakannya, pasti ia akan minta raj’ah (dikembalikan lagi ke dunia) ketika sudah mati.” Ada seorang berkata, “wahai Ibnu Abbas bertakwalah kepada Allah! sesungguhnya yang minta dikembalikan lagi ke dunia adalah orang kafir.” Ibnu Abbas menjawab, “aku akan bacakan kepadamu ayat Al Qur’an tentang hal itu.” Lalu beliau membaca Surat Al Munafiqun ayat 9 sampai ayat 11.
Apa yang membuat mereka menyesal?
Penyesalan mereka dikarenakan tidak bisa menggunakan kesempatan hidup untuk menyiapkan bekal akhirat. Maka tatkala mereka memasuki gerbang akhirat tanpa membawa bekal, dan sudah melihat apa yang dijanjikan dan diancamkan di dalamnya maka mereka menyesal dan ingin diberi kesempatan hidup sekali lagi, walau sebentar, untuk menyiapkannya. Oleh karenanya, benar apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang mayoritas orang merugi pada keduanya, yaitu (nikmat) sehat dan waktu luang.” (HR. Al Bukhari dari Ibnu Abbas)
Hadits ini menunjukkan, siapa yang tidak memanfaatkan nikmat sehat dan waktu luang untuk hal-hal yang semestinya maka dia benar-benar telah merugi. Sebab, dengan melakukan hal yang tidak berguna, dia telah menukar dua nikmat yang agung itu dengan harga yang murah.
Ibnu Baththal rahimahullah menjelaskan tentang makna hadits di atas, “seseorang tidak memiliki waktu longgar sehingga hidupnya tercukupi dan badannya sehat. Karenanya, siapa yang mendapatkannya hendaknya memperhatikannya agar tidak merugi karena tidak bersyukur terhadap nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepadanya. Dan salah satu cara mensyukuri nikmat Allah adalah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Barangsiapa yang tidak memanfaatkan kesempatan itu maka dia telah merugi.”
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “barangsiapa menggunakan kedua nikmat tersebut dalam kemaksiatan kepada Allah, maka ia telah tertipu (rugi).”
“Barangsiapa menggunakan kedua nikmat tersebut dalam kemaksiatan kepada Allah, maka ia telah tertipu (rugi).” Ibnul Jauzi
Memang sedikit orang yang bisa memanfaatkan kesempatan tersebut. Terkadang seseorang berada dalam kondisi sehat, tapi tidak memiliki waktu luang untuk beribadah dan beramal shalih karena kesibukannya mencari nafkah. Sebaliknya, terkadang hidup seseorang telah berkecukupan, namun dia dalam kondisi tidak sehat sehingga dia juga tidak bisa beribadah lebih kepada Allah. Karenanya, jika kedua nikmat tersebut berkumpul dalam diri seseorang, namun dia dikalahkan oleh sifat malas untuk menjalankan ketaatan maka dia telah merugi.
Sesungguhnya dunia adalah ladang akhirat. Di dalamnya ada cocok tanam yang hasilnya akan dipanen di akhirat. Maka dari itu, siapa yang menggunakan waktu sehat dan luangnya untuk ketaatan kepada Allah maka dialah orang yang berbahagia. Sebaliknya, siapa yang menggunakannya untuk bermaksiat kepada Allah maka dialah orang yang merugi. Sungguh waktu luang akan diikuti oleh kesibukan dan sehat akan diikuti oleh sakit.
Sesungguhnya dunia adalah ladang akhirat. Di dalamnya ada cocok tanam yang hasilnya akan dipanen di akhirat.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada seseorang yang sedang dinasihatinya;
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْل خَمْس ، شَبَابك قَبْل هَرَمك ، وَصِحَّتك قَبْل سَقَمك ، وَغِنَاك قَبْل فَقْرك ، وَفَرَاغك قَبْل شُغْلك ، وَحَيَاتك قَبْل مَوْتك
“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang miskinmu, waktu luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dengan syarat al Bukhari dan Muslim dan diriwayatkan juga oleh Ibnul Mubarak dalam az Zuhd dengan sanad shahih dari riwayat mursal Amru bin Maimun).
Ibnu Umar radliyallah ‘anhuma pernah berkata,
إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
“Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhari)
. . . Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. . . .
Sudah seharusnya seseorang selalu mempersiapkan bekal dirinya untuk menghadapi kondisi setelah kematian. Yaitu dengan mengerjakan amal shalih dan bertaubat dari semua dosa, karena kematian bisa datan secara tiba-tiba.
Imam Al Bukhari rahimahullah membuat satu bab dalam Shahihnya, “Bab Kematian yang Datang Tiba-tiba,” lalu beliau menyebutkan hadits Sa’ad bin Ubaidah ketika berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “sesungguhnya ibuku telah meninggal dengan mendadak, dan aku yakin seandainya ia bisa berbicara sebelum itu, pastilah ia ingin bersedekah. Maka dari itu, apakah dia akan mendapatkan pahala jika aku bersedekah untuknya? Beliaupun menjawab, “ya”.

Mari Kita Bersyukur

Saat kita berbahagia dan bersyukur pada perkara yang kecil dan kita anggap sepele, maka kita sedang bersiap untuk bersyukur menerima kebahagian yang lebih besar.
Ingat, setan hampir-hampir berputus asa menggoda manusia, kecuali atas perkara-perkara yang dianggap sepele oleh anak cucu Adam itu. Dia menunggu-nunggu manusia tidak mensyukuri hal-hal sepele, lalu manusia tidak berbahagia atas anugerah Allah swt. Dan kufur nikmat kepada-Nya.
Di jaman sekarang ini banyak sekali orang khususnya pemuda-pemudi yang menganggap sepele rasa syukur, bahkan makna dalam bersyukur itu sudah hampir punah di kalangan mereka saat ini.
Kurangnya bersyukur kepada nikmat Allah terkadang menjadikan seseorang menjadi lemah iman. Ingatlah, apa yang ada pada diri kita pandanglah dengan kacamata iman, maka insya Allah kita akan menjadi makhluk yang terus menerus bersyukur.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”
(Q.S. Al Baqarah 152).
Mulailah dari mensyukuri yang Allah hadirkan hari ini. Dan janganlah menjadi kufur nikmat yang bisa merusak keimanan.
Alasan kenapa begitu pentingnya bersyukur kepada Allah adalah sebagai pengakuan atas keesaan Allah. Dalam ayat yang lain dijelaskan pada saat pernyataan menentang iblis (pada hari penolakannya untuk bersujud kepada Adam), menegaskan pentingnya bersyukur kepada Allah: “Kemudian saya akan memperdayakan mereka dengan mendatanginya dari muka, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri. Dan Engkau tidak akan menemui lagi kebanyakan mereka sebagai golongan orang-orang yang bersyukur” (Q.S.Al A’raf 17).
Ayat di atas menjelaskan tujuan utama dari iblis untuk membuat manusia mengingkari nikmat Allah. Dan bersyukur kepada Allah merupakan salah satu ujian dari Allah. Manusia diberikan banyak kenikmatan dan diberitahu cara memanfaatkannya. Sebagai balasannya, manusia di minta untuk taat kepada penciptanya, namun manusia diberi kebebasan untuk memilih apakah mau beryukur atau tidak.
Nikmat Allah itu tidak terbatas banyaknya. “Seandainya kalian menghitung nikmat Allah, tentu kalian tidak akan mampu”. (Q.S.An-Nahl 18)
Karenanya seorang mukmin tidak seharusnya menyepelekan nikmat, melainkan berdzikir dan mewujudkan rasa syukur dengan ketaatan kepadaNya.
Sumber : suara-islam.com
http://www.muslimahcorner.com/2014/11/bersyukur-jangan-dianggap-sepele/

Reza Pahlepi Walikota Payakumbuh Goreng Telur dengan Biogas

Dalam acara temu lapang di Kota Payakumbuh, Pak Reza Pahlepi Walikota Payakumbuh menggoreng telur dengan menggunakan kompor biogas. Berikut ini foto-fotonya

Saya mendampingi Pak Reza Pahlepi Walikota Payakumbuh mencoba kompor bioga hasil modifikasi

3 menit telur matang
Saya bersama Pak Yon dan Istrinya, ketua kelompok yang telah menggunakan biogas, "Alhamdulillah sekarang dengan biogas kami sudah tidak pakai kayu dan minyak" begitu kata mereka
Walikota Payakumbuh Reza Pahlepi menandatangani pupuk cair dari biogas
Pupuk cair dari limbah biogas
Dibelakang saya ini digester biogas permanen dan penampung gasnya

Walikota Payakumbuh meninjau digester biogas
ini kompor yang sudah saya modifikasi untuk biogas

Pak Walikotapun menyanyi di kandang sapi kelompok, diiringi orgen tunggal yang dimainkan oleh ketua kelompok Pak Yon

Indahnya Bunga Sumatera Barat

Anggrek kantong

Anggrek macan

Beberapa jenis anggrek

Sirih hutan
Kantong semar


Budidaya Sayuran Tanpa Pestisida Dengan Limbah Biogas



Saya bersama Pak Kamto 

Panen bayam


Limbah biogas (slury) yang dihasilkan oleh digester biogas yang dibuat oleh BPTP Sumbar di kandang Peternak, Mahakarya, Luhak Nan Duo, Pasaman Barat kini telah dipakai untuk pupuk sayuran. Dari hasil pantauan Tim dari BPTP Sumbar Selasa, 2 Desember 2014, sayuran yang dipupuk dengan limbah biogas terlihat bagus dan tidak tampak serangan hama. 


Bayam dan kangkung terlihat subur dan tidak ada serangan hama
 
Sukamto, peternak sekaligus petani mengatakan selama pemakaian limbah biogas budidaya sayuran menjadi lebih mudah dan lebih hemat biaya. Serangan hama sedikit sekali sehingga anpa perlu pemakaian pestisida. Hasil sayuran lebih subur, lebih hijau dan lebih sehat karena tidak disemprot pestisida. Biaya produksi juga lebih hemat karena tidak perlu membeli pestisida. Sukamto sudah menggunakan limbah biogas dua kali musim sayuran, yang pertama sudah panen dengan hasil yang memuaskan dan yang kedua ini baru umur 20 hari dan menunjukkan pertumbuhan yang baik.
 Pak Kamto dan tanamannya tanpa serangan hama

Suparman ketua kelompok Sejahtera II mengatakan penggunaan limbah biogas ini sangat bagus. Dia juga sangat berminat untuk menerapkannya. Sekarang ini Suparman sedang membangun digester biogas. Dia berharap selain mendapatkan gasbio untuk memasak dia juga dapat memanfaatkan limbahnya unuk budidaya sayuran dan sawit miliknya.
  Mas Heru dan Pak Kamto

 Mas Heru dan Pak Parman Ketua kelompok memamerkan kencur

Sayuran sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Serangan hama dapat merusak, atau setidaknya mengurangi penampilan sayuran, sehingga menurunkan harga jual. Serangan penyakit dapat merusak tanaman bahkan mematikan tanaman. Pengendalian hama dan penyakit memerlukan biaya yang tinggi, apalagi sekarang harga pestisida naik seiring dengan kenaikan BBM bersubsidi. Oleh karena itu dengan memanfaatkan limbah biogas hama tanaman berkurang dan lebih hemat. (Supri)
Link versi Web 

Biogas Permanen Kapasitas 9 Kubik Biaya Murah

Alhamdulillah setelah mengalami beberapa kendala dalam pembuatan dan pengisian bahan baku biogas, sekarang biogas telah suksesberjalan normal.
Teman-teman dimanapun berada, saya akan berbagi tentang pembuatan biogas permanen dengan kapasitas 9 kubik atau 9.000 liter

pembuatan digester

merangkai pipa

digester biogas sudah dioperasikan
tabung biogas dan alat pengaman sekaligus water trap
kompor biogas dengan api biru.
limbah biogas/slury ditampung dan dimanfaat untuk pupuk

Bagi teman teman diwilayah Solok dan sekitarnya bisa langsung melihatnya di BPTP Sumatera Barat di Sukarami, Solok.

Bila ada yang ditanyakan bisa langsung menghubungi saya lewat hp 0852 7257 2011 GRATIS



Kompor Biogas Murah Meriah Tapi Tidak Murahan

Teman-teman dimanapun anda berada kali ini saya akan berbagi tentang pembuatan kompor biogas murah meriah tapi tidak murahan lho. Bahannya dari pipa 1,5 inchi 5 cm dan pipa 1/2 inchi 30 cm. Langkah pertama potong pipa 1,5 inchi 5 cm kemudian tutup bagian bawahnya dengan plat besi ketebalan sama dengan pipa, kemudian buat lubang samping sebesar kurang lebih sebesar lingkaran kelereng setelah itu las dengan pipa 1/2 inchi 30 cm. Ujung pipa masukan ke pipa paralon 1/2 inchi dan kasih kran. Siap, kompor sudah jadi. Atur jarak panci dengan permukaan kompor 2-3 cm. Atur nyala api dengan menekan plastik penampung dengan cara mengikat atau memberi beban diatasnya.
Upah pembuatannya di bengkel 25 ribu - 40 ribu. kalo bisa buat sendiri pasti lebih murah.






Biogas Plastik Biaya 300 ribu

Assalamu 'alaikum wrwb. Teman-teman semua dimanapun anda berada, kali ini saya ingin berbagi pembuatan biogas murah 300 ribuan. dengan rincian; plastik 150 ribu, pipa 3 inchi 2 meter 50 ribu, pipa 1/2 inchi 40 ribu, kompor rakitan 30 ribu, kran dll 30 ribu
Membuat biogas plastik di Timpeh Kabupaten Dharmasraya
Digester dengan kapasitas 200 liter terbuat dari plastik lebar 120 cm, panjang 7 meter, ketebalan 0,2 (lebih tebal lebih bagus) . ukuran lubang panjang 6,5 meter, lebar 60 cm dan dalam 60 cm, sebaiknya lubang diplester biar awet
Bersama peternak membuat biogas

Komponen Biogas : digester, penampung gas, pipa masuk, pipa keluar, pengaman gas, pipa/slang penyalur gas, kompor



Pakan Kering Untuk Kambing

Pakan kering salah satu solusi untuk peternakan kambing, apalagi peternakan besar. Pakan kering memiliki beberapa keuntungan : awet, dapat disimpan lama, mudah diberikan, tenaga kerja sedikit, bisa jadi bank pakan. Pengeringan salah satu cara murah mengawetkan pakan. yang perlu diperhatikan adalah pemberian minum harus selalu tersedia setiap saat.

Jerami kedelai/titen tanpa fermentasi