Tampilkan postingan dengan label kisah islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah islami. Tampilkan semua postingan

Belajar Dari Negeri Baldatun Toyyibatun Wa Robbun Ghofur, Negeri Saba

 Negeri yang makmur, diberkahi menjadi idaman bagi setiap orang untuk tinggal didalamnya. Keamanan, kenyamanan, kecukupan makanan, keindahan yang ada dalam Negeri yang diberkahi menjadi kenikmatan dari Allah yang selalu harus disyukuri. Itulah yang akan kita pelajari dan tadabburi dari kisah Negeri Saba' yang diberkahi yang disebutkan dalam Al-Qur'an.

Kisah Negeri Saba' adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang dapat meningkatkan keimanan kita yang banyak terdapat ibroh, pelajaran dan petunjuk bagi kita. 

Allah SWT berfirman dalam QS 34 : 15

لَقَدْ كَانَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ  ۚجَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَالٍ ەۗ كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗ  ۗبَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ

Terjemah Kemenag RI: 

Sungguh, bagi kaum Saba' ada tanda (kebesaran Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun."

Sumber: https://elevendream.com/quran

Allah berfirman bahwa ada tanda-tanda kebesaran Allah dari Negeri Saba' yaitu dua buah kebun disebelah kanan dan kirinya. Ketika kita tadabburi ayat ini sungguh luar biasa negeri yang ada kebun dikiri dan kanannya yang bisa dimakan karena ayat setelahnya adalah perintah "Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. Di Negara maju termasuk di negara kita belum ada yang seperti ini, mungkin masih ada kebun dan tanaman di kiri dan kanannya tapi tidak semua bisa dimakan. Maka pantas jika negeri Saba' menjadi tanda tanda kebesaran Allah, sesuatu yang luar biasa mukjizat. Di Saba' memetik buah cukup membawa wadah diatas kepala dan berjalan dibawah pohon buah dan buah berjatuhan sendiri hingga penuh. Ketika orang berkutu masuk dalam Negeri saba maka akan rontok kutu kutunya. 

Sudah seharusnya negeri Saba kita jadikan contoh teladan pengelolaan negeri untuk membuat kebun kebun yang lebat dan produktif. Sehingga negeri kita makmur masyarakatnya tercukupi kebutuhannya terutama kebutuhan makanannya, masyarakat sejahtera. Masyarakat juga harus bersyukur atas semua rahmat yang telah Allah curahkan kepada kita.

 

Mengingkari nikmat Allah bahkan kafir kepada Allah menjadi bencana bagi masyarakat suatu negeri sebagaimana Negeri Saba yang tidak beryukur atas nikmat Allah yang tercurah kepada mereka bahkan mereka kafir kepada Allah. Maka Allah mendatangkan azab pada Negeri Saba' dengan jebolnya bendungan sehingga menjadi banjir bandang yang melanda Negeri Saba. Akibat banjir bandang tersebut Negeri Saba' yang sebelumnya subur makmur menjadi gersang, hanya ditumbuhi tanaman berduri dan pahit rasanya seperti cemara dan seperti bidara. yang akhirnya tidak layak dan nyaman di tinggali. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Negeri Saba'

Kepemimpinan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu


kepemimpinan sahabat umar bin khatab
Suatu ketika Umar bin al-Kahththab radhiyallahu ‘anhu, Amirul Mukminin membeli seekor kuda. Lalu dia membawanya berjalan agak jauh dari si pembeli, lalu dia menungganginya untuk mencoba kuda tersebut. Ternyata kuda tersebut mengalami memar-memar. Lantas beliau sendiri menangani hal ini dengan mengembalikan kuda tersebut dan beranggapan bahwa penjual telah menipunya. Akan tetapi, si penjual tidak mau menerima kembali kuda tersebut dari Amirul Mukminin. Lalu apa yang dilakukan oleh Amirul Mukminin terhadap orang yang mempersulit ini? Apakah beliau memerintahkan agar orang tersebut ditahan? Apakah beliau merekayasa tuduhan terhadap orang tersebut? Tidak, beliau pun mengajukan gugatan untuk mendapatkan haknya. Akan tetapi, laki-laki yang digugat mendesak agar dirinyalah yang memilih hakim. Akhirnya dia memilih Syuraih, seorang hakim yang terkenal adil. Sedangkan Umar radhiyallahu ‘anhu duduk pada posisi tersangka. Dan keputusan hukum mengalahkan Umar radhiyallahu ‘anhu sesuai dengan undang-undang keadilan seraya mengatakan kepada Umar radhiyallahu ‘anhu, “Ambillah apa yang telah engkau beli atau kembalikanlah sebagaimana engkau menerimanya.” Dengan perasaan bahagia Umar radhiyallahu ‘anhu melihat Syuraih seraya berkata, “Apakah ada putusan selain ini?” Beliau tidak memerintahkan untuk memenjarakan hakim, atau menuduh para pegawai-pegawainya membuat gejolak stabilitas negara. Beliau justru menunjuknya sebagai hakim di Kufah sebagai imbalan untuknya.
Ketika kain-kain Yaman telah sampai dan dibagikan kepada kaum muslimin secara adil dan sama rata, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu memakai pakaian yang lebih besar dari jatahnya (karena postur beliau tinggi). Kaum muslimin menyentuh kain itu, karena semuanya dibagikan secara terang-terangan. Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu naik ke atas mimbar untuk berkhutbah dan memberi semangat kepada orang-orang untuk berjihad dengan mengenakan pakaian tersebut dan berkata kepada mereka, “Dengarkanlah dan taatlah kalian!” Tidak ada sambutan berkata kepada mereka, “Dengarkanlah dan taatlah kalian!” Tidak ada sambutan gema suasana yang hangat. Yang ada justru suara keras mengarah kepadanya, “Tidak perlu didengar dan tidak perlu ditaati.” Pada situasi ini puluhan prajurit bersenjatakan pedang tidak terprovokasi, apalagi melancarkan pukulan. Akan tetapi, kondisi menjadi tenang dengan sendirinya.
Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada orang yang bersuara tersebut ketika kondisi tenang, “Mengapa? Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu.” Lantas lelaki tersebut berkata dengan sangat berani, “Engkau telah mengambil kain sebagaimana kain yang kami ambil. Akan tetapi, bagaimana caranya engkau memotong kain tersebut padahal engkau lebih tinggi dari kami? Pastilah ada sesuatu yang diistimewakan untuk kamu.” Umar radhiyallahu ‘anhu pun membela diri. Kemudian dia memanggil anaknya, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengumumkan bahwa dia memberikan kain baigannya kepada ayahnya sehingga memungkinkan bagi Umar radhiyallahu ‘anhu membuat gamis yang sempurna dan dapat dijadikan untuk menutupi aurat dan berkumpul dengan orang-orang. Lantas laki-laki tersebut duduk dengan tenang seraya berkata, “Sekarang kami mendengar dan menaati.”
Umar radhiyallahu ‘anhu hidup seperti semua orang pada umumnya. Beliau menyalakan lampu di malam hari. Beliau berbincang-bincang dengan menggunakan lampu tersebut untuk urusan kenegaraan. Apabila orang yang berbincang-bincang dengannya membicarakannya hal-hal di luar urusan kaum muslimin, maka beliau memadamkan lampu. “Lampu ini milik Negara. Oleh karena itu, tidak benar jika digunakan untuk keperluan pribadi.”
Pada hari Jumat orang-orang telah berkumpul menanti Khathib, yaitu Umar radhiyallahu ‘anhu. Umar radhiyallahu ‘anhu datang terlambat sehingga mereka lama menunggu. Kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu keluar menemui mereka, lalu dia naik ke atas mimbar. Dia menyampaikan alasan keterlambatannya kepada kaum muslimin. Ketika mereka bertanya mengenai sebab keterlambatannya, maka menjadi jelas bahwa Amirul Mukminin tadi sedang mencuci gamisnya. Dia tidak memiliki selain gamis tersebut. Kemudian beliau menunggu sampai gamisnya kering dan dia baru memakainya, lalu datang ke masjid untuk berkhutbah.
Umar keluar untuk melakukan patroli malam dalam rangka mencari informasi di masyarakat. Sampailah beliau di perkampungan Ali setelah menempuh lima mil dari Madinah. Beliau melihat-lihat, ternyata di dalamnya ada sebuah kemah yang apinya menyala. Ketika beliau mendekat, beliau melihat seorang perempuan yang di sekelilingnya terdapat anak-anak kecil sedang menangis. Umar radhiyallahu ‘anhu pun bertanya tentang kondisi mereka, lalu perempuan tersebut menjawab, “Kami dihantam kedinginan dan kerasnya malam.’ Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Mengapa anak-anak itu menangis?” Perempuan tersebut menjawab, “Mereka menangis lantaran kelaparan.” Umar bertanya lagi, “Apa yang ada di dalam periuk?” Dia menjawab, “Air yang saya gunakan untuk mendiamkan mereka sampai mereka tidur.” Kemudian perempuan tersebut berkata, “Allah di antara kami dan Umar.” Perempuan tersebut tidak mengetahui bahwa orang yang diajak bicara adalah Umar radhiyallahu ‘anhu. Lalu umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu. Apakah Umar radhiyallahu ‘anhu tidak mengetahui kondisi kalian?” Perempuan tersebut menjawab, “Mahasuci Allah, apakah dia mengurusi urusan kami, buktinya dia melupakan kami.” Lantas Umar radhiyallahu ‘anhu berjalan dengan cepat menuju ke Baitul Mal. Dia kembali lagi dengan memikul sendiri makanan di atas pundaknya. Dia membawakan tepung yang bagus dan minyak untuk perempuan tersebut dengan dipikul di atas punggungnya sendiri. Dia menolak seorang pun yang hendak menggantikannya memikulkan barang tersebut seraya mengatakan bahwa sesungguhnya siapa pun tidak akan dapat menggantikan untuk memikul dosa-dosanya di hari kiamat. Umar radhiyallahu ‘anhu memasakkan makanan untuk anak-anak tersebut sedangkan si perempuan kagum dengan tindakan Umar radhiyallahu ‘anhu ini. Dia berkata kepada Umar radhiyallahu ‘anhu, “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasmu dengan kebaikan. Demi Allah, Anda lebih berhak memegang kekuasaan dari pada Umar radhiyallahu ‘anhu, Sang Amirul Mukminin.”
Pada suatu hari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menghukum seorang tentara dari kelompok pasukan Irak, lalu dia mencukur rambut tentara tersebut. Si tentara menganggap bahwa hukuman ini tidak adil. Lantas dia mengumpulkan potongan rambutnya di tempat duduk Umar radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “Seperti inilah anak buahmu memperlakukan kami.” Lalu wajah Umar radhiyallahu ‘anhu bersinar cerah, dia berkata, “Sungguh, saya lebih menyukai jika semua orang mempunyai keberanian seperti laki-laki daripada semua daerah yang berhasil saya bebaskan. Mereka itu adalah umat kami dan hal tersebut adalah warisan kami. Tidak ada kemuliaan bagimu hai tuan kami.”
Suatu ketika Umar radhiyallahu ‘anhu sedang berjalan di malam hari. Tiba-tiba ada seorang perempuan yang memanggil-manggil nama Nashr bin Hajjaj. Dia ingin minum arak dan bertemu Nashr. Dia berkata,
Apakah ada jalan menuju arak agar saya dapat meminumnya
Atau apakah ada jalan menuju Nashr bin Hajjaj
Lalu Umar radhiyallahu ‘anhu mengirim surat kepadanya. Ternyata Nashr bin Hajjaj ialah orang yang paling pintar membuat syair dan paling tampan, kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu memerinahkan agar rambutnya dipendekkan. Dia pun memendekkan rambutnya. Maka, dia semakin tampan. Lantas Umar radhiyallahu ‘anhu memerintahkan agar dia memakai surban. Di pun memakai surban. Maka, surban tersebut menambah ketampanananya dan hiasannya. Lalu umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidak akan tenang bersamaku seorang laki-laki yang dipanggil-panggil oleh perempuan.” Kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu memberinya harta yang banyak dan dia mengutusnya ke Bashrah agar dia melakukan perdagangan yang dapat menyibukkan dirinya dari memikirkan perempuan dan menyibukkan perempuan dari dirinya.
Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu ialah seorang gubernur Mesir. Putranya melatih kuda untuk persiapan balapan. Suatu ketika sebagian penduduk Mesir menantangnya balapan kuda. Lantas terdapat perselisihan di antara keduanya tentang milik siapakah kuda yang menang balapan. Putra gubernur marah, lalu dia memukul orang Mesir tersebut seraya berkata, “Apakah kamu berani melangkahi putra orang-orang terhormat?” Maka, orang Mesir itu pun tidak terima, lantas dia mengajukan gugatan kepada Amirul Mukminin, Umar radhiyallahu ‘anhu. Selanjutnya Umar radhiyallahu ‘anhu memanggil gubernur Mesir (Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu) beserta putranya. Beliau juga memanggil orang Mesir tersebut, mengumpulkan orang-orang dan memerintahkan orang Mesir tersebut agar memukul pihak lawannya dengan mengucapkan, “Pukullah anak-anak orang-orang terhormat.” Kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu juga memerintahkan kepadanya agar memukul gubernur, karena putranya tidak akan berani memukul orang kecuali karena kekuasaannya. Beliau membentak Amr bin Al-Ash radhiyallahu ‘anhu dengan berkata kepadanya, “Sejak kapan kalian memperbudak manusia padahal mereka dilahirkan oleh ibu mereka dalam keadaan merdeka.”
Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang selalu menangis lantaran takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga engkau melihat pada wajah dua garis hitam saking banyaknya air mata yang menets. Beliau adalah orang yang sangat takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di samping itu beliau berkata, “Seandainya aja ibuku tidak pernah melahirkanku. Seandainya saja saya adalah sehelai rambut pada jasad Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.” Dia pernah mengatakan, “Seandainya ada yang mengumandangkan bahwa semua manusia masuk surga kecuali satu orang, pastilah saya khawatir kalau satu orang tersebut adalah diriku.”
Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1
http://kisahmuslim.com/kepemimpinan-umar-bin-khaththab-radhiyallahu-anhu/

Kisah Nyata: Menabrak Polisi, Dapat Jodoh

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … 
Aku tak tahu, apakah ini kesialanku atau keberuntunganku. Satu yang kutahu, inilah jalan yang diberikan Allah untuk bertemu jodohku. Meski awalnya, aku merasa sial karena kecelakaan itu dan aku harus mengganti rugi tidak sedikit. Toh akhirnya justru kesialanku itu membawaku ketemu jodoh.
Ceritanya begini, secara tak sengaja aku menabrak seorang polisi sepulang kuliah. Tak kusangka “motor butut”-ku bisa merusak total motornya yang bernilai puluhan juta. Perasaan, mataku sudah fokus ke jalan, tak jelalatan kemana-mana. Doa juga sudah kubaca saat aku menyalakan mesin motor di parkiran I kampus.
Memang sudah apes dan inilah yang dinamakan takdir. Nggak diminta dan meski sudah hati-hati eh… nabrak juga, … polisi lagi.
Aku dan motorku sempat juga jungkir balik, Alhamdulillah lukaku tak seberapa parah, meski jidatku sempat berdarah-darah dan tanganku terkilir, serta luka lecet hamper diseluruh tubuh. Meski tak sampai membuatku pingsan, aku harus merasakan mondok tiga hari di rumah sakit.
Sementara polisi yang kutabrak tak separah aku. Tapi justru motornya yang parah, sempat aku ciut nyali saat temen-temen polisi dan orang-orang mengerumuniku. Di TKP teman-teman polisi itu justru yang marah-marah dan bersikap agak keras padaku, tapi mas polisi itu justru minta teman-temannya bersikap baik dan sabar padaku.
“Sudah, nggak papa namanya juga nggak sengaja, memang ada orang mau nabrak atau ditabrak? Jangan kasarlah aku baik saja kok. Kayaknya motor yang kena, nanti kan bisa diselesaikan baik-baik”.
Aku dibuat kagum bahkan polisi yang kutabrak itu berbaik hati mengantarku ke rumah sakit dan mengabari keluarga dirumah. Selama tiga hari itu dia juga menyempatkan diri menjengukku di rumah sakit. Kami jadi akrab karenanya.
Nah, setelah keluar dari rumah sakit aku mulai disibukkan urusan ganti rugi onderdil motor senilai puluhan juta itu. Ganti rantai saja nilainya jutaan rupiah, itu pun belum spare part lain.
Makanya hampir seluruh tabungan hasil kerja sampinganku ludes semua. Tapi aku memang harus bertanggungjawab bukan? Aku tak mau menyusahkan orangtua soal ganti rugi, hingga aku bilang ke mas polisi cuma bisa mencicil sedikit demi sedikit.
Seperti biasa, kali ini aku ke rumah mas polisi untuk mencicil ganti rugi. Ini keempat kalinya aku kesana. Sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih dia menerima “setoranku”. Dan seperti biasa pula kami ngobrol sejenak. Tak kusangka dia tiba-tiba bertanya, “sudah ada gambaran nikah belum?” tanyanya padaku sambil mesem-mesem.
“Ya kadang pingin juga mas, kerja kecil-kecilan insya Allah sudah ada, pinginnya nggak nunda-nunda, tapi jodohnya belum ada”. Jawabku sambil cengar-cengir.
“Mau sama adikku? Serius nih, orangnya pake jilbab gedhe kamu carinya kan yang kayak gitu”. Mas polisi bilang gitu mungkin karena celanaku yang “kayak orang kebanjiran” seperti temen-temen kampus yang suka meledekku.
“Bener kok, serius!” Ujarnya menegaskan.
Sore itu aku pulang dan berjanji memikirkan tawarannya. Setelah berkonsultasi dengan orang tua dua pekan kemudian kuberikan jawaban “Ya”. Tentu saja, akhwat dan keluarganya sudah tahu keadaanku yang perbedaannya ibarat langit dan bumi dengan mereka yang dari keluarga berada. Meski awalnya minder, sikap bapak akhwat yang begitu baik membuatku percaya diri, pesannya padaku singkat.
“Laki-laki yang bisa menjadi imam dan tanggungjawab, satu lagi jaga anak perempuan saya, dia sepenuhnya saya titipkan ke kamu”.
Meski diberi tanggungjawab yang tak ringan, hatiku serasa diguyur es, sejuk…. Rasanya. Aku segera pulang ke awang-awang sepulang nazhar. Mas Har, si mas polisi yang kutabrak itu mencegatku, ia menyerahkan amplop tebal padaku.
“Ini uang yang kamu titipkan padaku, ini hadiahku tapi bener ya cepet jemput bidadarimu! Ia memukul pundakku ringan dan pergi tanpa memberiku kesempatan bertanya lagi.
Masya Allah, di rumah, begitu kubuka amplop ternyata isinya uang sesuai ganti rugi motor yang kuberikan kepada mas Har. Segera kuhubungi mas Har lewat telepon, tapi ia tertawa ringan.
“Aku sudah bilang, itu untuk calon adikku”.
Berkaca-kaca saat kututup telepon sambil tak henti-hentinya bersyukur. Sudah nabrak orang, dikasih adiknya, dipercaya orangtuanya, uang ganti ruginya masih dikembalikan padaku.
Semalaman aku tak bisa tidur entah karena senang atau bingung. Uang senilai hampir sepuluh juta itu, kuberikan sebagai mahar saat akad nikah buat istri. Tepat sebulan sebelum Ramadhan.
Kini kami sudah punya 2 momongan, insya Allah beberapa bulan lagi akan bertambah seorang lagi. Mas Har menikah 2 tahun kemudian, ia baru punya satu momongan, Alhamdulillah kami semua hidup bahagia. Mas har dan istrinya juga mulai tertarik manhaj mulia ini. Dan itu menambah kebahagiaan kami.
Wallahua’lam bish Shawwab ….
Barakallahufikum ….
… Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci …
Sumber : Majalah nikah sakinah volume 9 no 6 dengan sedikit perbaikan tulisan  via  AsliBumiAyu.wordpress.com
http://kisahmuslim.com/kisah-nyata-menabrak-polisi-dapat-jodoh/

Kisah si miskin yang menginfakkan 30 kendaraan di jalan Allah



Mutiara Ramadhan # 11: Kisah si miskin yang menginfakkan 30 kendaraan di jalan Allah Siapa di antara kita yang tidak mengenal sahabat Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu? Jundub bin Junadah al-Ghifari, nama asli sahabat yang mulia ini, adalah sosok yang sangat terkenal dalam sejarah Islam. Ia dianggap sebagai “bapak orang-orang miskin”, “tokoh zuhud”, atau “musuh orang-orang kaya”.  Bahkan orang-orang sosialis dan komunis mencatut namanya sebagai pejuang proletar yang menggoyang kemewahan kaum borjuis.
Abu Dzar al-Ghifari semula adalah seorang perampok ulung, seperti halnya profesi mayoritas penduduk badui suku Ghifar. Ia masuk Islam sejak awal-awal masa dakwah di Makkah. Keberaniannya dalam menyuarakan kebenaran ditunjukkan saat ia mengumumkan keislamannya secara terang-terangan di Ka’bah pada siang hari bolong, sehingga membuatnya dipukuli oleh orang-orang musyrik Quraisy.
Abu Dzar al-Ghifari dikenal luas dengan sikapnya yang berani dan lantang menyuarakan kebenaran. Ia juga mencintai kehidupan seadanya, makanan yang kasar ala kadarnya, pakaian yang kasar dan rumah sederhana. Ia sangat membenci kemewahan hidup.
Sikap terhadap harta yang cenderung keras membuat Abu Dzar al-Ghifari berkali-kali terlibat perselisihan dengan para sahabat yang kaya. Di Damaskus, Abu Dzar al-Ghifari terlibat perbantahan dengan gubernur Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan sejumlah sahabat yang kaya.
Abu Dzar al-Ghifari berpendapat seorang muslim haram menyimpan harta, karena semua harta yang melebihi kebutuhan pokok harus diinfakkan di jalan Allah. Sementara itu mayoritas sahabat berpendapat seorang muslim boleh memiliki dan menyimpan harta dalam jumlah banyak, melebihi kebutuhan pokoknya, selama ia menunaikan kewajiban-kewajiban dalam harta tersebut; zakat, infak, sedekah, wakaf dan lain-lain.
Kisah Abu Dzar al-Ghifari yang hidup dengan tenda seadanya, makanan yang kasar dan pakaian yang kasar sudah dikenal luas di tengah kaum muslimin. Namun ada sisi-sisi lain kehidupan Abu Dzar al-Ghifari yang jarang sekali diangkat di tengah kaum muslimin. Salah satunya adalah kekayaan dan kedermawanan beliau.
Kekayaan? Tentu saja. Sebagai seorang sahabat, muhajir dan mujahid yang senantiasa berjihad sejak zaman Rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, tentu Abu Dzar al-Ghifari juga memperoleh jatah dari harta ghanimah dan fa’i. Abu Dzar al-Ghifari hidup pada zaman kemakmuran kaum muslimin selama 10 tahun masa pemerintahan khalifah Umar bin Khathab dan 12 tahun masa pemerintahan khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Selama 20an tahun tersebut, Abu Dzar al-Ghifari juga mendapatkan jatah ghanimah, fa’i dan ~satu lagi adalah~ al-atha’, yaitu subsidi dan jatah harta dari baitul mal (kas negara).
Jadi, jangan berfikir bahwa Abu Dzar al-Ghaf adalah sosok orang miskin yang menganggur, tak memiliki pekerjaan, tak memiliki penghasilan tetap, dan tak memiliki harta apa-apa. Abu Dzar al-Ghifari memiliki harta yang banyak, yang bisa membuatnya hidup lebih dari cukup. Namun Abu Dzar al-Ghifari lebih memilih hidup seadanya, hidup dalam tenda yang sederhana, memakan makanan yang kasar dan murah, dan memakai pakaian yang kasar dan murah. Sisa seluruh hartanya ia infakkan di jalan Allah Ta’ala.
Inilah hakekat miskin dan zuhud; memiliki harta yang banyak, namun hanya mengambil sebatas kebutuhan pokok, dan menginfakkan seluruh sisanya di jalan Allah. Abu Dzar al-Ghifari senantiasa memegang teguh firman Allah Ta’ala:
وَيُؤْثِرُونَ عَلى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كانَ بِهِمْ خَصاصَةٌ
“Dan (dengan hartanya) mereka lebih mendahulukan keperluan orang lain atas keperluan mereka sendiri, meskipun mereka sendiri juga dalam kondisi kekurangan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 9)
Setiap bulan Abu Dzar al-Ghifari menerima jatah subsidi dari baitul mal sebesar 4000 dirham. Dengan uang sebesar itu, Abu Dzar al-Ghifari membeli kebutuhan pokok keluarganya untuk masa satu tahun. Lalu Abu Dzar menginfakkan sisa uangnya di jalan Allah, guna membantu fakir, miskin, janda, anak yatim dan orang-orang yang memerlukannya.
Ulama tabi’in, imam Sai’d bin Abul Hasan berkata:
أَنَّ أَبَا ذَرٍّ كَانَ عَطَاؤُهُ أَرْبَعَةَ آلاَفٍ، فَكَانَ إِذَا أَخَذَ عَطَاءهُ، دَعَا خَادِمَهُ، فَسَأَلَهُ عَمَّا يَكْفِيْهِ لِلسَّنَةِ، فَاشْتَرَاهُ، ثُمَّ اشْتَرَى فُلُوْساً بِمَا بَقِيَ.
“Abu Dzar al-Ghifari memiliki al-atha’ (jatah subsidi dari baitul mal setiap bulannya) 4000 dirham. Jika Abu Dzar al-Ghifari telah menerima jatah subsidi tersebut, ia akan memanggil pelayannya dan menanyainya kebutuhan hidupnya (kebutuhan keluarga Abu Dzar, edt) selama satu tahun. Setelah itu Abu Dzar al-Ghifari akan membeli kebutuhan hidup keluarganya selama satu tahun, lalu Abu Dzar akan membeli uang-uang receh dengan sisa uangnya (untuk ia infakkan kepada orang-orang yang memerlukannya, edt).” (Imam Adz-Dzahabi, Siyaru A’lam an-Nubala’, 2/73)
Sebagai seorang mujahid sejati, Abu Dzar al-Ghifari juga senantiasa menyiapkan perbekalan untuk perang di jalan Allah. Ia memiliki 30 ekor kuda yang dirawat dengan baik. Setiap kali berjihad, Abu Dzar al-Ghifari akan membawa 15 ekor kudanya, lengkap dengan perbekalannya. Saat pulang dari jihad, 15 ekor kuda tersebut akan dikandangkan, dirawat dengan baik, dan diistirahatkan untuk operasi-operasi jihad lainnya. Sementara itu pada jihad berikutnya Abu Dzar al-Ghifari akan membawa 15 kuda yang semula diistirahatkan.
Demikianlah Abu Dzar al-Ghifari menginfakkan 30 ekor kuda untuk kepentingan perang di jalan Allah. Setiap kali berangkat jihad, Abu Dzar membawa 15 ekor kuda. Pergiliran 15 ekor kuda yang berangkat dan 15 ekor kuda yang beristirahat itu memungkinkan kuda senantiasa dalam kondisi segar, sehat dan prima saat diperlukan di jalan Allah Ta’ala.
Ulama tabi’it tabi’in, Yahya bin Abi Katsir berkata:
كَانَ لأَبِي ذَرٍّ ثَلاَثُوْنَ فَرَساً يَحْمِلُ عَلَيْهَا، فَكَانَ يَحْمِلُ عَلَى خَمْسَةَ عَشَرَ مِنْهَا يَغْزُو عَلَيْهَا، وَيُصْلِحُ آلَةَ بَقِيَّتِهَا، فَإِذَا رَجَعَتْ أَخَذَهَا، فَأَصْلَحَ آلَتَهَا، وَحَمَلَ عَلَى الأُخْرَى.
“Abu Dzar al-Ghifari memiliki 30 ekor kuda yang bisa ia pergunakan. Maka Abu Dzar al-Ghifari biasa membawa 15 ekor kuda saat berperang di jalan Allah dan ia tinggalkan 15 ekor sisanya untuk dirawat (di kandang). Jika ia pulang dari berperang, maka ia mengandangkan 15 ekor kuda tersebut dan merawatnya, kemudian ia berangkat berperang dengan 15 ekor kuda yang lain.” (Imam Adz-Dzahabi, Siyaru A’lam an-Nubala’, 2/74)
Abu Dzar al-Ghifari sangat menghayati firman Allah Ta’ala:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِباطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَما تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
“Dan persiapkanlah kekuatan apapun yang kalian mampui untuk menghadapi mereka (musuh-musuh) dan juga dari kuda-kuda yang tertambat untuk perang. Dengan persiapan kekuatan militer itu kalian menggentarkan musuh Allah dan musuh kalian, dan juga (menggentarkan) musuh-musuh selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya, namun Allah mengetahuinya. Harta apapun yang kalian infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas secara sempurna untuk kalian dan kalian tidak akan dizalimi.” (QS. Al-Anfal [8]]: 60)
Subhanallah, inilah sosok sebenarnya dari “si miskin”, bahkan “bapak orang-orang miskin” yang selama ini kisahnya ramai diceritakan oleh para ustadz, mubalig, dan kaum shufi. “Kemiskinan”nya sama sekali tidak menghalanginya dari terjun aktif dalam jihad di jalan Allah Ta’ala. Bukan hanya jihad dengan nyawanya, namun juga dengan hartanya. Bahkan, infaknya di jalan Allah adalah 30 kendaraan, jauh lebih besar dari infak kebanyakan jutawan muslim hari ini. Astaghfirullah al-Azhim, betapa jauhnya hidup kita dari kepribadian Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu. Wallahu a’lam bish-shawab.
 sumber : (muhibalmajdi/arrahmah.com)

Cinta Khalifah Umar Pada Rakyatnya


Omar
Aslam berkata, Suatu malam aku keluar bersama Umar bin al-Khaththab ke dusun Waqim. Ketika kami sampai di Shirar, kami melihat ada api yang dinyalakan. Umar berkata, Wahai Aslam di sana ada musafir yang kemalaman, mari kita berangkat menuju mereka. Kami segera mendatangi mereka dan ternyata di sana ada seorang wanita bersama anak-anaknya sedang menunggu periuk yang diletakkan ke atas api, sementara anak-anaknya sedang menangis.

Umar bertanya, Assalamu alaiki wahai pemilik api. Wanita itu menjawab, Wa alaika as-Salam, Umar berkata, Kami boleh mendekat? Dia menjawab, Silahkan! Umar segera mendekat dan bertanya, Ada apa gerangan dengan kalian? Wanita itu yang juga tak mengenali Umar menjawab, Kami kemalaman dalam perjalanan serta kedinginan. Umar kembali bertanya, Kenapa anak-anak itu menangis? Wanita itu menjawab, Karena lapar. Umar kembali bertanya, Apa yang engkau masak di atas api itu? Dia menjawab, Air agar aku dapat menenangkan mereka hingga tertidur. Dan Allah kelak yang akan jadi hakim antara kami dengan Umar.

Maka Umar menangis dan segera berlari pulang menuju gudang tempat penyimpanan gandum. Ia segera mengeluarkan sekarung gandum dan satu ember daging, sambil berkata, Wahai Aslam naikkan karung ini ke atas pundakku. Aslam berkata, Biar aku saja yang membawanya untukmu. Umar menjawab apakah engkau mau memikul dosaku kelak di hari kiamat? Maka beliau segera memikul karung tersebut di atas pundaknya hingga mendatangi tempat wanita itu.

Setelah meletakkan karung tersebut beliau segera mengeluarkan gandum dari dalamnya dan memasukkannya ke dalam periuk. Setelah itu ia memasukkan daging ke dalamnya. Umar berusaha meniup api di bawah periuk hingga asap menyebar di antara jenggotnya untuk beberapa saat. Setelah itu Umar menurunkan periuk dari atas api dan berkata, Berikan aku piring kalian! Setelah piring diletakkan segera Umar menuangkan isi periuk ke dalam piring itu dan menghidangkannya kepada anak-anak wanita itu dan berkata, Makanlah! Maka anak-anak itu makan hingga kenyang, wanita itu berdoa untuk Umar agar diberi ganjaran pahala sementara dia sendiri tidak mengenal Umar.

Umar masih bersama mereka hingga anak-anak itu tertidur pulas. Setelah itu Umar memberikan kepada mereka nafkah lantas pulang. Umar berkata kepadaku, Wahai Aslam sesungguhnya rasa laparlah yang membuat mereka begadang dan tidak dapat tidur.
Semoga sepenggal kisah yang penuh hikmah kehidupan Umar bin Khattab sewaktu menjadi khalifah ini bermanfaat.

Khalifah Umar Menolong Persalinan Rakyatnya


Omar 

Aslam berkata, Pernah suatu malam aku keluar bersama Umar ke luar kota Madinah. Kami melihat ada sebuah tenda dari kulit, dan segera kami datangi, ternyata di dalamnya ada seorang wanita sedang menangis. Umar bertanya tentang keadaannya, dan dia menjawab, Aku adalah seorang wanita Arab yang akan bersalin (melahirkan) sedangkan aku tidak memiliki apapun. 

Umar menangis dan segera berlari menuju rumah Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib, istrinya, dan berkata, Apakah engkau mau mendapatkan pahala yang akan Allah karuniakan kepadamu? Segera Umar memberitakan padanya mengenai wanita yang dilihatnya tadi, maka istrinya berkata, Ya, aku akan membantunya. Umar segera membawa satu karung gandum beserta daging di atas bahunya, sementara Ummu Kaltsum membawa peralatan yang dibutuhkan untuk bersalin, keduanya berjalan mendatangi wanita tersebut. Sesampainya di sana Ummu Kaltsum segera masuk ke tempat wanita itu, sementara Umar duduk bersama suaminya, yang tidak mengenal Umar, sambil berbincang-bincang.

Akhirnya wanita itu berhasil melahirkan seorang bayi. Ummu Kaltsum berkata kepada Umar, Wahai Amirul Mukminin sampaikan berita gembira kepada suaminya bahwa anaknya yang baru lahir adalah lelaki. Ketika lelaki itu mendengar perkataan Amirul Mukminin ia merasa sangat kaget dan minta maaf kepada Umar. Namun Umar berkata kepadanya, Tidak mengapa. Setelah itu Umar memberikan kepada mereka nafkah dan apa yang mereka butuhkan lantas beliaupun pulang.

Imam Syafi’i, Nashirus-Sunnah wal-Hadits, Sang Pembela Sunnah dan Hadits Nabi

Beliau telah menghafal al-Qur'an pada saat berusia 7 (tujuh) tahun, lalu membaca dan menghafal kitab al-Muwaththa' karya Imam Malik pada usia 12 (dua belas) tahun.

Terusan Suez Adalah Karya Master Piece Umar bin Khattab

Banyak yang belum tahu , bahwa ternyata Terusan Suez ternyata adalah sebuah karya agung berdasar ide dan gagasan cemerlang sekaligus membuktikan kejeniusan Amirul Mukminin Umar Bin Khaththab raddiyallahu’anhu.

Bagaimana Rasulullah Bermesra Dengan Isteri

Sabda Rasulullah SAW: Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

Dua Laut Yang Terpisah

foto ini membuktikan kebenaran Surat Ar-Rahman ayat 19 dan 20 yang berbunyi:

مرج البحرين يلتقيان ؛ بينهما برزخ لا يبغيان ؛

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” (QS. Ar-Rahman: 19-20)
...
Inilah foto tersebut, yang memperlihatkan aliran dua lautan yang tidak pernah bercampur, seolah-olah ada sekat atau dinding yang memisahkannya.

Subhanallah, Maha Besar Allah Yang Maha Agung. Ternyata air laut yang tidak bercampur itu benar-benar ada. Saya sudah sering membaca ayat tersebut, tapi masih belum tahu di mana gerangan air laut yang tidak pernah bercampur itu.

Ayat lain yang menceritakan fenomena yang sama terdapat pada Surat Al-Furqan ayat 53 yang berbunyi:

وهو الذي مرج البحرين هذا عذب فرات وهذا ملح أجاج وجعل بينهما برزخا وحجرا محجورا

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS. Al-Furqaan: 53)

Dua lautan yang tidak bercampur itu terletak di Selat Gibraltar, selat yang memisahkan benua Afrika dan Eropa, tepatnya antara negera Maroko dan Spanyol.

Arus Selat Gibraltar memang sangat besar di bagian bawahnya. Hal ini dikarenakan perbedaan suhu, kadar garam, dan kerapatan air (density)nya. Air laut di Laut Tengah (Mediterania) memiliki kerapatan dan kadar garam yang lebih tinggi dari air laut yang ada di Samudera Atlantik. Menurut sifatnya, air akan bergerak dari kerapatan tinggi ke daerah dengan kerapatan air yang lebih rendah. Sehingga arus di selat Gibraltar bergerak ke barat, menuju Samudera Atlantik. Lalu apakah air ini akan bercampur dengan air di Samudera Atlantik?

TIDAK!. Lho?? Ternyata ketika air laut dari Laut Tengah menuju Samudera Atlantik, mereka tidak mencampur. Seakan ada sekat yang memisahkan kedua jenis air ini. Bahkan batas antara kedua air dari dua buah laut ini sangat jelas. Air laut dari Samudera Atlantik berwarna biru lebih cerah. Sedangkan air laut dari Laut Tengah berwarna lebih gelap. Inilah keajaiban alam. Tidak hanya itu yang aneh dari perilaku dari kedua air laut ini. Ternyarta, air laut dari laut Tengah yang tidak mau bercampur dengan air laut dari Samudera Atlantik ini menyusup di bawah air laut yang berasal dari Samudera Atlantik. Air dari Laut Tengah ini menyusup di bawah air dari Samudera Atlantik di bawah kedalaman 1000 meter dari permukaan Samudera Atlantik.

Di Selat Gibraltar itu ada pertemuan dari dua jenis laut yang berbeda. Perbedaan itu sangat jelas kelihatan dari perbedaan warna air laut. Ada garis batas yang memisahkan keduanya. Air laut dari lautan atlantik berwarna biru lebih terang. Air laut dari laut Mediteranian berwarna biru lebih gelap, lebih pekat. Garis batasnya sangat jelas. Perhatikan foto tersebut !!

Bagaimana bisa terjadi ?

Air laut dari Lautan Atlantik memasuki Laut Mediterania atau laut Tengah melalui Selat Gibraltar. Keduanya mempunyai karakteristik yang berbeda. Suhu air berbeda. Kadar garamnya berbeda. Kerapatan air (density) airpun berbeda. Waktu kedua air itu bertemu di Selat Gibraltar, karakter air dari masing masing laut tidak berubah. Kalau dipikir secara logika, pasti bercampur, nyatanya tidak bercampur. Kedua air laut itu membutuhkan waktu lama untuk bercampur, agar karakteristik air melebur. Penguapan air yang di Laut Mediterania sangat besar, sedang air dari sungai yang bermuara di Laut Mediterania berkurang sekali. Itulah sebabnya air Lautan Atlantik mengalir deras ke Laut Mediterania.

Sifat lautan ketika bertemu, menurut modern science, tidak bisa bercampur satu sama lain. Hal ini telah dijelaskan oleh para ahli kelautan. Dikarenakan adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah kedua air dari lautan tidak becampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. Air laut Mediteranian, yang berwarna biru tua, menyusup sampai kedalaman 1000 m dari permukaan laut, di lautan Atlantik, dan terus masuk sejauh ratusan km di lautan Atlantik dan tetap tidak berubah karakteristiknya.
Subhannallah.

Penjelasan secara fisika modern baru ada di abad 20M oleh ahli-ahli Oceanografi. Firman di Al Quran itu diturunkan di abad ke 7 M, 14 abad yang lalu.

Jadi kalimat siapa itu?

Itu adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Maka nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan?

Luar biasa, pemandangan selat Gibraltar yang memiliki dua warna air sungguh menakjubkan. Sudah lama membaca dan memahami tafsirnya, tentang adanya dua warna air laut di Gibraltar.

إن في خلق السماوات والأرض واختلا ف الليل والنهار لآيات لأولي الأ لباب

“Sesungguhnya dalam penciptaan bumi dan langit dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang orang yang berakal”. (QS. Al-Imran: 190)

semua kebenaran datangnya dari Allah, sementara kesalahan-kesalahan dalam tinjauan ini sepenuhnya tanggung jawab
saya yang mungkin tidak bisa menjangkau ilmu Allah yang begitu luas.

Wallaahu a’lam bish-shawab.

Sumber: http://www.tarwiyyah.tk/

Gubernur Yang Adil

Sa’id bin Amir berhijrah ke Madinah, dan mengabdikan diri kepada Rasulullah , dan ia ikut serta dalam perang Khaibar dan peperangan-peperangan setelahnya.Dan ketika Nabi yang mulia dipanggil menghadap Tuhannya, -saat itu beliau sudah meridhainya- ia mengabdikan diri dengan pedang terhunus di zaman dua khalifah Abu Bakar dan Umar, dan hidup bagaikan contoh satu-satunya bagi or...ang mu’min yang membeli akhirat dengan dunia, dan mementingkan keridhaan Allah dan pahala-Nya atas segala keinginan hawa nafsu dan syahwat badannya.

Kedua khalifah Rasulullah telah mengetahui tentang kejujuran dan ketakwaan Sa’id bin Amir, keduanya mendengar nasihat-nasihatnya dan memperhatikan pendapatnya.

Pada awal kekhilafahan Umar, ia menemuinya dan berkata, “Wahai Umar, aku berwasiat kepadamu, agar kamu takut kepada Allah dalam urusan manusia, dan janganlah kamu takut kepada manusia dalam urusan Allah, dan janganlah ucapanmu bertentangan dengan perbuatanmu, karena sesungguhnya ucapan yang paling baik adalah yang sesuai dengan perbuatan…

Wahai Umar, hadapkanlah wajahmu untuk orang yang Allah serahkan urusannya kepadamu, baik orang-orang muslim yang jauh atau yang dekat, cintailah mereka sebagaimana kamu mencintai dirimu dan keluargamu, dan bencilah untuk mereka sesuatu yang kamu benci bagi dirimu dan keluargamu, dan tundukkanlah beban menjadi kebenaran dan janganlah kamu takut celaan orang yang mencela dalam urusan Allah.

Maka Umar berkata, Siapakah yang mampu menjalankan itu wahai Sa’id?!.”

Ia menjawab, “Orang laki-laki sepertimu mampu melakukannya, yaitu di antara orang-orang yang Allah serahkan urusan umat Muhammad kepadanya, dan tidak ada seorangpun perantara antara ia dan Allah.”

Setelah itu Umar mengajak Sa’id untuk membantunya dan berkata, “Wahai Sa’id; Kami menugaskan kamu sebagai gubernur atas penduduk Himsh.” maka ia berkata, “Hai Umar! Aku ingatkan dirimu terhadap Allah. Janganlah kamu menjerumuskanku ke dalam fitnah. Maka Umar marah dan berkata, Celaka kalian, kalian menaruh urusan ini di atas pundakku, lalu kalian berlepas diri dariku!!. Demi Allah aku tidak akan melepasmu.” Kemudian ia mengangkatnya menjadi gubernur di Himsh, dan beliau berkata, “Kami akan memberi kamu gaji.” Sa’id berkata, “Untuk apa gaji itu wahai Amirul mu’minin? karena pemberian untukku dari baitul mal telah melebihi kebutuhanku.” Kemudian ia berangkat ke Himsh.

Tidak lama kemudian datanglah beberapa utusan dari penduduk Himsh kepada Amirul mu’minin, maka beliau berkata kepada mereka, “Tuliskan nama-nama orang miskin kalian, supaya aku dapat menutup kebutuhan mereka.” Maka mereka menyodorkan selembar tulisan, yang di dalamnya ada Fulan, fulan dan Sa’id bin Amir.

Umar bertanya: “Siapakah Sa’id bin Amir ini?.” Mereka menjawab, “Gubernur kami.” Umar berkata, “Gubernurmu miskin?” Mereka berkata, “Benar, dan demi Allah sudah beberapa hari di rumahnya tidak ada api.” Maka Umar menangis hingga janggutnya basah oleh air mata, kemudian beliau mengambil seribu dinar dan menaruhnya dalam kantong kecil dan berkata, “Sampaikan salamku, dan katakan kepadanya Amirul mu’minin memberi anda harta ini, supaya anda dapat menutup kebutuhan anda.”

Saat para utusan itu mendatangi Sa’id dengan membawa kantong, lalu Sa’id membukanya ternyata di dalamnya ada uang dinar, lalu ia meletakkannya jauh dari dirinya dan berkata : Inna lillahi wa inna ilahi raji’un, – seolah-olah ia tertimpa musibah dari langit atau ada suatu bahaya di hadapannya, hingga keluarlah istrinya dengan wajah kebingungan dan berkata, “Ada apa wahai Sa’id?!, Apakah Amirul mu’minin meninggal dunia?. Ia berkata, “Bahkan lebih besar dari itu.” Istrinya berkata, “Apakah orang-orang muslim dalam bahaya?” Ia menjawab, “Bahkan lebih besar dari itu.” Istrinya berkata, “Apa yang lebih besar dari itu?” Ia menjawab, “Dunia telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku, dan fitnah telah datang ke rumahku.” Istrinya berkata, “Bebaskanlah dirimu darinya.” -saat itu istrinya tidak mengetahui tentang uang-uang dinar itu sama sekali-. Ia berkata, “Apakah kamu mau membantu aku untuk itu?” Istrinya menjawab, “Ya!” Lalu ia mengambil uang-uang dinar dan memasukkannya ke dalam kantong-kantong kecil kemudian ia membagikannya kepada orang-orang muslim yang fakir.

Tidak lama kemudian Umar bin al-Khattab ? datang ke negeri Syam untuk melihat keadaan, dan ketika beliau singgah di Himsh -waktu itu disebut dengan ‘Al-Kuwaifah’ yaitu bentuk kecil dari kalimat Al-Kufah-, karena memang Himsh menyerupainya baik dalam bentuknya atau banyaknya keluhan dari penduduk akan pejabat-pejabat dan penguasa-penguasanya. Ketika beliau singgah di negeri itu, penduduknya menyambut dan menyalaminya, maka beliau berkata kepada mereka, “Bagaimana pendapat kalian tentang gubernur kalian?”

Maka mereka mengadukan kepadanya tentang empat hal, yang masing-masing lebih besar dari yang lainnya. Umar berkata, Maka aku kumpulkan dia dengan mereka, dan aku berdo’a kepada Allah supaya Dia tidak menyimpangkan dugaanku terhadapnya, karena aku sebenarnya menaruh kepercayaan yang sangat besar kepadanya. Dan ketika mereka dan gubernurnya telah berkumpul di hadapanku, aku berkata, “Apa yang kalian keluhkan dari gubernur kalian?”

Mereka menjawab, “Beliau tidak keluar kepada kami kecuali jika hari telah siang.” Maka aku berkata, “Apa jawabmu tentang hal itu wahai Sa’id?.” Maka ia terdiam sebentar, kemudian berkata, “Demi Allah sesungguhnya aku tidak ingin mengucapkan hal itu, namun kalau memang harus dijawab, sesungguhnya keluargaku tidak mempunyai pembantu, maka aku setiap pagi membuat adonan, kemudian aku tunggu sebentar sehingga adonan itu menjadi mengembang, kemudian aku buat adonan itu menjadi roti untuk mereka, kemudian aku berwudlu dan keluar menemui orang-orang.” Umar berkata, “Lalu aku berkata kepada mereka, “Apa lagi yang anda keluhkan darinya?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya beliau tidak menerima tamu pada malam hari.” Aku berkata, “Apa jawabmu tentang hal itu wahai Sa’id?” Ia menjawab, “Sesungguhnya Demi Allah aku tidak suka untuk mengumumkan ini juga, aku telah menjadikan siang hari untuk mereka dan malam hari untuk Allah Azza wa Jalla.” Aku berkata, “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?”

Mereka menjawab, “Sesungguhnya beliau tidak keluar menemui kami satu hari dalam sebulan.” Aku berkata, “Dan apa ini wahai Sa’id?” Ia menjawab, “Aku tidak mempunyai pembantu wahai Amirul mu’minin, dan aku tidak mempunyai baju kecuali yang aku pakai ini, dan aku mencucinya sekali dalam sebulan, dan aku menunggunya hingga baju itu kering, kemudian aku keluar menemui mereka pada sore hari.” Kemudian aku berkata : “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?”

Mereka menjawab, “Beliau sering pingsan, hingga ia tidak tahu orang-orang yang duduk dimajlisnya.” Lalu aku berkata, “Dan apa ini wahai Sa’id?” Maka ia menjawab, “Aku telah menyaksikan pembunuhan Khubaib bin Adiy, kala itu aku masih musyrik, dan aku melihat orang-orang Quraisy memotong-motong badannya sambil berkata, “Apakah kamu ingin kalau Muhammad menjadi penggantimu?” maka ia berkata, “Demi Allah aku tidak ingin merasa tenang dengan istri dan anak, sementara Muhammad tertusuk duri…Dan demi Allah, aku tidak mengingat hari itu dan bagaimana aku tidak menolongnya, kecuali aku menyangka bahwa Allah tidak mengampuni aku… maka akupun jatuh pingsan.”

Seketika itu Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menyimpangkan dugaanku terhadapnya.” Kemudian beliau memberikan seribu dinar kepadanya, dan ketika istrinya melihatnya ia berkata kepadanya, “Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan kami dari pekerjaan berat untukmu, belilah bahan makanan dan sewalah seorang pembantu untuk kami”, Maka ia berkata kepada istrinya, “Apakah kamu menginginkan sesuatu yang lebih baik dari itu?” Istrinya menjawab, “Apa itu?” Ia berkata, “Kita berikan dinar itu kepada yang mendatangkannya kepada kita, pada saat kita lebih membutuhkannya.” Istrinya berkata, “Apa itu?”, Ia menjawab, “Kita pinjamkan dinar itu kepada Allah dengan pinjaman yang baik.” Istrinya berkata, “Benar, dan semoga kamu dibalas dengan kebaikan.” Maka sebelum ia meninggalkan tempat duduknya dinar-dinar itu telah berada dalam kantong-kantong kecil, dan ia berkata kepada salah seorang keluarganya, “Berikanlah ini kepada jandanya fulan. dan kepada anak-anak yatimnya fulan, dan kepada orang-orang miskin keluarga fulan, dan kepada fakirnya keluarga fulan”.

Mudah-mudahan Allah meridhai Sa’id bin Amir al-Jumahi, karena ia adalah termasuk orang-orang yang mendahulukan(orang lain) atas dirinya walaupun dirinya sangat membutuhkan.

(Al-Tahdzib:4/51, Ibnu ‘Asakir:6/145-147, Shifat al-Shafwah:1/273, Hilyatul auliya’ :1/244, Tarih al-Islam:2/35, Al-Ishabah:3/326, Nasab Quraisy:399. Disalin dari http://forum-unand.blogspot.com/2010/02/biografi-said-bin-amir-al-jumahi.html)

Laksamana Cheng Ho: Muslim yang Gemar Memakmurkan Masjid



Laksamana Cheng Ho
Laksamana Cheng Ho
Laksamana Cheng Ho dikenal sebagai Muslim yang sangat taat dalam menjalankan ibadah. Tentu saja, keislamannya ini karena dilakukan dari lubuk hatinya yang terdalam.
Bagi Cheng Ho, bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat dinantikan. Bahkan, pada 7 Desember 1411, sesudah pelayarannya yang ke-3, laksamana kepercayaan kaisar Ming ini menyempatkan pulang ke kampungnya, Kunyang, untuk berziarah ke makam sang ayah. Ketika Ramadhan tiba, ia memilih menjalankan ibadah puasa di kampung halamannya.

Perjuangan Cinta Para Wanita





Ilustrasi (blogspot/pendyaneh)
“Wahai Abu Utsman,” kata perempuan itu, “Sungguh aku mencintaimu.”
Suasana hening sejenak. “Aku memohon, atas nama Allah, agar sudilah kiranya engkau menikahiku,” lanjutnya.

Kisah Gadis Kecil Yang Shalihah


Oleh: Ummu Mariah Iman Zuhair
Aku akan meriwayatkan kepada anda kisah yang sangat berkesan ini, seakan-akan anda mendengarnya langsung dari lisan ibunya.
Berkatalah ibu gadis kecil tersebut:
Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi di dalam tidurnya. Ia melihat banyak burung pipit yang terbang di angkasa. Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yang sangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanya kepada ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dan sesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi tersebut.

Ardiansyah, S.Hut Pemimpin Sederhana Dari Kalimantan Selatan


di Kandangan, Kab. HSS. Kalimantan Selatan, Indonesia. Ardiansyah atau lebih lengkapnya H. Ardiansyah, S.Hut dikenal orang yang sangat ramah, mudah tersenyum, selalu menjabat tangan orang yang ditemui dengan santun dan berbaur dengan masyarakat tanpa canggung.
Rumah Pribadi yang sangat sederhana
Rumah Pribadi yang sangat sederhana
Wakil Bupati Kab. HSS 2008-2013 ini sebelumnya menjabat sebagai Ketua DPRD Kab. HSS, ketika menjadi Ketua DPRD dan juga Wakil Bupati, beliau tidak menempati Rumah Dinas dan memilih untuk tetap tinggal di rumah pribadi beliau yang sangat sederhana.
Rumah yang mungkin orang tidak akan menyangka kalau disanalah seorang Wakil Bupati tinggal. Banyak orang yang berkomentar baik yang negative maupun yang positif, menanyakan kenapa beliau tidak tinggal di rumah dinas, beliau pernah menjawab yang intinya beliau merasa lebih nyaman dan tentram ketika tinggal di rumah pribadi, dan juga menurut beliau kalau sudah menempati rumah dinas dan merasakan segala fasilitasnya maka suatu saat nanti akan sulit melepaskannya.
Rumah pribadi ini berada di tepi jalan trans Kalimantan, Jl A. Yani di Desa Gambah Luar, Kecamatan Kandangan, Rumah yang sangat sederhana, di ruang tamu hanya ada hamparan tikar dan biasanya ada air mineral untuk tamu, tidak ada kursi ataupun meja tamu. Di rumah inilah belaiu bersama istri dan 4 anak beliau tinggal, melaksanakan amanah rakyat yang sekaligus amanah Tuhan. Kadang memang rada sulit untuk dipahami, tapi mungkin dengan ungkapan Baiti Jannati (Rumahku Surgaku), semuanya bisa terjawab.
Mobil Dinas Wakil Bupati HSS
Mobil Dinas Wakil Bupati HSS
Wakil Bupati ini juga dalam kehidupan kesehariannya lebih banyak menggunakan
H.Ardiansyah,S.Hut naik sepeda motor dalam acara formal di Pendopo
H.Ardiansyah,S.Hut naik sepeda motor dalam acara formal di Pendopo
sepeda motor pribadinya daripada mobil dinasnya. Bahkan ketika acara penetapan hasil Pemilukada di Pendopo Kabupaten yang menetapkan beliau dan pasangan sebagai pemenang, beliau datang dengan sepeda motor. Dalam menggunakan mobil dinaspun, beliau lebih sering menggunakan mobil dinas yang paling sederhana yaitu Kijang Krista (DA 221 D) daripada mobil dinas beliau yang lain yang lebih baru Suzuki Grand Vitara (DA 5 D). Sehingga DA 5 D lebih sering terparkir di rumah dinas.
Terjun Langsung ke Lokasi Banjir
Terjun Langsung ke Lokasi Banjir
H. Ardiansyah, S.Hut merupakan pemimpin yang sangat peduli, dalam banyak kesempatan beliau langsung turun ke daerah bencana, baik banjir, kebakaran, angin puting beliung dll. Beliau juga sering datang berta’ziah ke rumah masyarakat yang ada keluarganya meninggal. Pernah ada banjir di salah satu daerah di Kota Kandangan, yaitu di Pulau Nagara, beliau tak segan-segan langsung terjun berbasah kuyup untuk melihat langsung keadaan warga sekaligus mendata kebutuhan bantuan yang diperlukan serta mengantar bantuan awal bagi warga.
Beliau juga dikenal sangat dekat dengan para alim’ulama,  selain diri beliau yang juga sangat religius
Bupati dan Wakil bersilaturrahmi dengan Alm. KH. Syamsyuni di Nagara
Bupati dan Wakil bersilaturrahmi dengan Alm. KH. Syamsyuni di Nagara
orangnya dan mencintai para ulama sehingga sangat sering beliau silaturrahmi dan minta nasehat dari para ulama.
Kesederhanaan beliau pun tampak dalam kehidupan sehari-hari, seperti makanan, pakaian, dan tingkah laku. Penulis menyimpulkan ada satu sifat beliau yang cukup menonjol ketika beliau mengambil keputusan atau langkah, yaitu sifat wara’. Para ulama mendifinisakan dengan  meninggalkan apa-apa yang membahayakan, hal itu terwujud dengan meninggalkan segala sesuatu yang hukumnya belum jelas dan belum jelas pula hakekatnya (Syubhat), sifat wara mungkin akan lebih bisa dimengerti denan kata kehati-hatian.
Wallahu’alam bish Shawab, Semoga tulisan ini memberikan ide,  inspirasi dan selalu memberikan harapan akan perbaikan.
sumber  http://avivsyuhada.wordpress.com/2011/11/23/pemimpin-sederhana-dari-iran-dan-kandangan/