Mantan Copet Jadi Pengusaha (kisah Nyata)



Assalaamu 'Alaikum wr.wb

Pagi itu... seperti biasa, setelah sarapan 'sego tabok' (nasi bungkus dengan harga Rp 1000/bungkusnya), di warung depan Pasar Kendangsari, saya segera melanjutkan tujuan, berkeliling di kawasan industri mencari lowongan pekerjaan.


Dengan bermodalkan sepeda Federal hasil minjam punya tetangga, karna kebetulan sepeda saya lagi rusak, tanpa mengenal lelah, saya terus berkeliling dari satu pabrik ke pabrik yg lain, sambil ndak lupa meninggalkan surat lamaran di beberapa pabrik yg membuka lowongan kerja. Dalam hati, saya terus saja meneriakkan kata itu. Nothing Impossible, ndak ada yg ndak mungkin, saya pasti bisa berubah menjadi orang yg lebih baik.
Yup.. kata itu memang sudah menjadi motto hidup saya sejak dulu. Selama kita masih mau berusaha, Allah pasti akan membukakan jalan-Nya.
Hari itu benar-benar menjadi hari yg sangat melelahkan buat saya. Setelah dua bulan sebelumnya saya lulus dari sekolah, dan akhirnya nganggur ndak punya kegiatan sama sekali kecuali ngamen sana ngamen sini, otomatis perut sayapun ikut nganggur. Kadang sehari makan cuma sekali kalo ngamenku lagi sepi, karna memang saya sudah memutuskan untuk berhenti nyopet, setelah saya lulus dari STM. Saya akan berubah menjadi orang yg lebih baik, Nothing Impossible, ndak ada yg ndak mungkin, saya pasti bisa mencari uang dengan cara yg halal, yg ndak merugikan orang lain lagi.

Nah... siang itu, ketika saya sudah merasa lelah mengayuh sepeda mengelilingi Kawasan SIER, lalu dilanjut ke kawasan Industri Tambak Sawah, dalam perjalanan pulang, saya menyempatkan diri istirahat di depan bioskop Anta di kawasan kampus Petra. Dan di antara satu dua tetes keringat yg saya biarkan jatuh itulah, tiba-tiba duduk di samping saya seorang lelaki seumuran saya, mengajak ngobrol sana sini, cerita ini itu. Hingga tanpa ragu, sayapun lalu menceritakan maksud dan tujuan saya sebenarnya bahwa saya sedang membutuhkan satu pekerjaan. Dia bilang, kebetulan sekali kakaknya sedang mencari seorang lulusan STM mesin, yg mau dijadikan sebagai tukang bubut di bengkel pribadinya. Tanpa banyak kata, sayapun langsung menerima tawaran itu.
Alhamdulillah ya Allah... berulang kali saya ucapkan puji syukur itu di dalam hati. Akhirnya sebentar lagi saya akan mendapatkan sebuah pekerjaan yg saya impi-impikan selama ini.

Singkat cerita, di siang terik itu, (kira-kira jam setengah 2) saya lalu berboncengan dengannya menuju tempat kerja yg ditawarkannya tadi. Kata dia tempat kerja kakaknya itu ada dikawasan Masjid Akbar, atau sekitar 10 kiloan dari kampus Petra. Dengan semangat membara, sayapun mengayuh sepeda hasil minjam tetangga itu ke arah yg dia tunjuk. Dan dalam beberapa menit, akhirnya kami sampai di kawasan Gayung Sari. Temen saya bilang mau mampir dulu sebentar di rumah temennya yg bernama Anton, dan sayapun mengiyakannya. Sampai dirumah Anton, Ibu Anton bilang, Antonnya lagi main bola di pinggir Tol. Akhirnya kamipun menyusulnya. Waktu itu jam tangan saya menunjukkan pukul tiga sore. Sampai dilapangan bola ternyata Antonnya ndak ada, padahal temen saya bilang ada urusan penting yg harus ia selesaikan dengan Anton. Akhirnya tanpa keraguan sedikitpun, saya biarkan temen saya tadi, memakai sepeda saya, untuk mencari Anton sebentar, sementara saya disuruh menunggu saja disitu.
Sambil melihat riangnya anak-anak bermain bola, saya tetap setia menunggu teman saya tadi kembali, hingga saya lupa akan tujuan utama saya yaitu mencari pekerjaan. Sepuluh menit berlalu, dia belum kembali. 20 menit, 30 menit, 40, 50 sampai satu jam saya menunggu ternyata dia ndak kembali juga. Sayapun mulai gusar. Saya lalu kembali ke rumah Anton untuk menanyakan keberadaan teman saya itu, dan Alhamdulillah Antonnya ada di rumah itu. Tapi ternyata temen saya ndak ada dan ada satu lagi jawaban Anton yg membuat saya tersentak kaget.
Ternyata baru kemarin siang Anton mengenal temen saya tadi. Antonpun ndak tau siapa dia sebenarnya dan dimana rumahnya.
Mati aku..! Bagai tercekat, nafas di kerogkongan saya ketika mendengar jawaban itu.

Ya Allah... ternyata saya sudah terpedaya, saya tertipu olehnya. Jaket kakak saya dan sepeda federal punya tetangga itu sekarang hilang bersamanya. Lunglai seluruh sendi kaki kurasa. Apa maksud dari ini semua ya Allah, kenapa Kau timpahkan ini padaku, pada hamba-Mu yg tak berdaya ini.
Bukan pekerjaan itu yg saya dapat tapi malah sepeda tetangga saya yg lenyap. Gimana saya akan mempertanggung-jawabkan ini nantinya. Dari mana saya bisa mendapatkan uang untuk mengganti sepeda yg hilang itu?? Ya Allah, apa yg harus saya lakukan sekarang?
Saya hanya bisa duduk merenung, mencoba menerima apa yg baru saja saya alami.
Hingga akhirnya saya memaksakan diri ini bangkit, mengumpulkan lagi daya kekuatan menyusuri jalan menuju pulang, meski itu harus melangkahkan kaki berkilo-kilo meter jauhnya.

Sampai ditempat kost, tak ayal lagi, semua orangpun menggoblok-goblokkan saya. Koq bisa seorang mantan preman sampai kena tipu?? Yah...... namanya juga manusia Mbak.. Mas.. kesialan itu pasti bisa saja menimpa. Mungkin inilah cara Allah menguji kebulatan tekad saya untuk berubah. Atau mungkin juga ini semua balasan atas kelakuan bejat saya dulu, mengambil yg bukan milik saya, seenak hati. Apa yg bisa saya lakukan sekarang selain pasrah menerima semuanya.

Keesokan harinya, saya kembali melakukan aktifitas itu, mengelilingi Kawasan Industri, mencari lowongan pekerjaan. Kali ini saya memakai sepeda saya sendiri yg sudah saya perbaiki semalam. Tapi lagi-lagi usaha saya kali ini ndak membuahkan hasil, dari ratusan pabrik yg berdiri kokoh itu, ndak satupun yg membuka lowongan pekerjaan.
Akhirnya sayapun pulang dengan memikul rasa lungkrah yg luar biasa. Seperti biasa sebelum pulang, saya selalu menyempatkan diri mencari tempat untuk sekedar mengeringkan keringat. Dan karena waktu itu hari Jum'at, sayapun memilih sebuah masjid dikawasan Kutisari untuk tempat saya beristirahat, sekalian menunaikan Ibadah Sholat Jum'at. Dalam suasana hening itu, saya bersujud menghadapnya. Doa dan pengharapanpun mengalir keluar dari hati saya yg terdalam.

"ya Allah, Sang Maha Pemberi... andaikan saya boleh meminta, ijinkanlah saya berubah menjadi manusia yg lebih berguna. Tunjukkanlah jalan-Mu untuk saya melangkah ke arah itu. Ampunilah segala kekhilafan saya di masa lalu dan tuntunlah saya menuju jalan lurus-Mu, amin.."

Seusai Sholat Jum'at, saya duduk merenung di undakan masjid itu, tiba-tiba saja dari arah belakang, sebuah tangan kekar menyentuh lembut pundak kananku.

"Bapak Personalia??!" Begitu saya biasa menyapanya dulu, ketika saya masih PSG di perusahaannya. Saya menatap lelaki kekar itu dengan penuh pengharapan.

"sudah lulus sekolahnya?? kerja dimana sekarang??"

"Alhamdulillah sudah Pak... tapi saya masih nganggur, ini tadi saya habis keliling SIER, tapi ndak ada satupun pabrik yg membuka lowongan kerja."

"ya sudah kalo gitu sekarang kamu ikut saya saja, kerja diperusahaan saya"

"beneran Pak??"

"iya bener..."


Alhamdulillah ya Allah.. akhirnya Kau bukakan juga jalan itu untuk saya. Dan berawal dari sinilah saya mulai menata hidup saya kembali. Dari yg dulunya seorang tukang copet, mulai saat itu telah berubah menjadi tukang bubut. Nothing Impossible, ndak ada yg ndak mungkin.
Dari yg dulunya selalu makan dari uang haram, sejak saat itu mulai bisa merasakan nikmatnya uang halal. Dan sedikit demi sedikit hidup sayapun mulai berubah, penghasilan saya mulai bertambah. Kalo dulu saya hanya mampu membawa pulang uang maksimal 15 ribu per hari, hasil mengamen, sejak saat itu saya sudah bisa membawa uang lebih.
Alhamdulillah ya Allah...
Nothing Impossible, ndak ada yg ndak mungkin.

Hingga 10 tahun berlalu, kehidupan saya diperantauan ini sedikit demi sedikit mulai membaik. Kalo situasi ekonominya stabil, saat ini saya sudah bisa membawa pulang penghasilan bersih, minimal 600 ribu dalam seminggu.
Alhamdulillah ya Allah...
Nothing Impossible, ndak ada yg ndak mungkin. Selama kita masih mau berusaha, Allah pasti akan membukakan jalan-Nya. Trima kasih Bapak Personalia yg sudah menjadi perantara-Nya.

Kawan-kawan semua, itulah tadi sepenggal kisah hidup saya yg masih selalu mencoba merubah dirinya ke arah yg lebih baik. Semoga kalian bisa mengambil sisi baik dari kisah hidup saya tadi.
Ingat..!! Nothing Impossible, ndak ada yg ndak mungkin..!!

Dan untuk selanjutnya nanti, saya akan menuliskan lagi kisah mantan copet yg sekarang sudah menjadi seorang pengusaha sukses (bagian kedua).

Wassalaamu 'Alaikum wr.wb 

Bagian dua

Assalaamu 'alaikum sahabatku semua...

Seperti yg saya bilang kemarin bahwa kali ini saya akan melanjutkan lagi kisah mantan copet yg lain yg sekarang sudah berhasil menjadi seorang pengusaha sukses. Tapi sebelumnya, saya mau mengucapkan terimakasih dulu yg sebesar-besarnya atas partisipasi sahabat-sahabat semua yg telah meninggalkan komentarnya di postingan saya kemarin.

Memiliki usaha sendiri adalah cita-cita dan obsesi saya sejak saya memutuskan untuk berhenti nyopet waktu itu.

Mantan copet itu akhirnya menjadi seorang pengusaha sukses.

Hmmm... kala itu saya selalu membayangkan, betapa bahagianya hati ini, bila kelak suatu ketika sahabat-sahabat semua menggumamkan kalimat itu di belakang saya. Ini adalah obsesi terbesar saya sepanjang hidup, dan obsesi itu kian hari kian terasa kuat semenjak saya bertemu dengan seorang Bapak yg ternyata adalah mantan copet juga. Sama seperti saya.

Waktu itu...
seperti biasa setelah turun dari Bus Aneka Jaya jurusan Pacitan-Ponorogo, saya langsung menuju Bus Restu jurusan Ponorogo-Surabaya, yg sering saya tumpangi setiap habis mudik dan kembali ke tempat kerja di Surabaya.
Kebetulan bus tersebut belum begitu ramai dengan penumpang sehingga dengan begitu mudahnya saya bisa menemukan beberapa kursi kosong yg masih tersisa. Setelah mencari-cari sebentar, akhirnya saya temukan juga satu kursi yg saya rasakan paling nyaman untuk saya tempati. Saya kemudian duduk di kursi deretan ke 4 dari depan, di sisi sebelah kiri yg berisi dua kursi. Karena waktu itu saya merasa capek sekali, akhirnya ndak berapa lama kemudian, sayapun segera terlelap dibalik topi dan kaca mata hitam saya.
Saking lelapnya saya tertidur, tanpa terasa, dalam sekejap bus itupun akhirnya sampai di kawasan Mojokerto.

Nah disinilah saya bertemu dengan Bapak tadi, yg mana beliau ini telah berhasil merubah jalan hidupnya secara drastis.
Bapak itu berjalan ke arah saya sambil menggandeng anak perempuannya. Di tangan kanannya tergenggam sebuah ponsel Nokia N73. Sayapun lalu membaginya tempat duduk. Gadis kecil sekitar tujuh tahunan itupun tampak begitu asyik bergelayut manja di bahu Bapaknya, sambil membawa sebungkus plastik tahu asin, masih lengkap dengan lombok dan juga petisnya.
Sambil makan tahu, sesekali gadis kecil itu menatapi saya, sementara Bapaknya diam saja sambil terus memandang lurus ke depan.
Karena hari itu hari Senin dan bukan masa liburan sekolah, iseng-iseng saya lalu nanya,

"ndak sekolah to Dik?" gadis kecil itu hanya tersipu, lalu memandang Bapaknya.
Sang Bapak yg mendengar pertanyaan itu kemudian tersenyum kepada saya sambil berkata,

"mbolos Mas, sekali-kali kan ndak papa, habis kalo tahu Bapaknya bepergian pasti selalu minta diajak"

"memang Bapaknya mau ke mana to?"

"ke Surabaya"

"wuaaah sama dong, saya juga mau kesana lho Pak, kerja" jawab saya kemudian, "kok Ibunya ndak ikut?" tanya saya lagi

"Ibunya di rumah, jaga kalo ada orang setor"

"setor?? setor apa to Pak?"

"setor plastik bekas"

"ooo begitu"

"waktu muda dulu, saya pernah tinggal di Surabaya juga lho Mas" katanya seperti bernostalgia.

"tiap hari kluyuran di terminal Bungurasih" tambahnya.

"lho, koq kluyuran di Bungurasih Pak?" saya jadi tertarik untuk bertanya lebih jauh.

"nyopet Mas, tapi setelah kawin dan punya anak, saya insyaf. Kerja kayak gitu emang gampang cari duitnya, tapi nyusahkan orang sehingga bikin hidup keluarga kami ndak berkah. Lagian saya juga ndak mau memberi makan anak saya dengan uang haram" lanjutnya lagi.

Mak diegghh....! jantung saya berdegup kencang waktu itu, jangan-jangan Bapak ini mengenali saya..."terus, bapak kerja dimana waktu itu?" dengan masih berusaha menyembunyikan rasa khawatir, saya memberanikan diri untuk terus mengoreknya.

"karena saya ndak sempat tamat SMP, akhirnya cuma bisa jadi pemulung di Surabaya. Itu saya jalani selama 2 tahun, tapi karena ndak ada perkembangan, akhirnya saya pulang ke daerah asal istri saya, di Mojokerto, disana saya mengumpulkan para pemulung biar setor ke saya, terus memulai usaha jadi pengepul sampah plastik untuk dikirim ke pabrik plastik"

"plastik apa saja yang disetorkan?"

"macam-macam Mas, mulai dari bekas gelas aqua, botol plastik, keranjang plastik, timba, tas kresek, sampai polybag bekas pertanian. Pokoknya hampir semua sampah yg berbahan plastik"

"terus langsung dijual ke pabrik?" tanya saya

"ya ndak, musti disortir, dibersihkan, terus digiling sampai hancur. Setelah itu baru bisa dikirim ke pabrik plastik"

"wuaaaah, saya benar-benar salut dengan kerja keras Bapak" ucap saya berterus-terang.

Wajah Bapak itu nampak sumringah saat mendengar ucapan saya.

"Alhamdulillah Mas, rezeki memang selalu ada kalau kita terus menerus berusaha dan berdoa" jawabnya, "jadi ndak perlu nyopet, mencuri apalagi korupsi buat nyari rezeki. Sekarang saya sudah bisa mempekerjakan 5 orang tetangga saya buat menyortir dan menggiling plastik di rumah" tambahnya lagi.

"lha terus suka-duka bisnis sampah plastik itu gimana sih Pak?"

"sukanya ya permintaan plastik itu ndak pernah mandeg, pasti selalu ada. Kan pabrik plastik juga banyak. Bahan baku sampah plastik juga bertebaran dimana-mana, hampir di tiap tong sampah bisa kita temui. Jadi jangan kuatir kekurangan bahan baku atau ndak bisa memasarkannya. Kita tinggal pandai-pandai saja mencari peluang, mengumpulkan pemulung agar mau kirim ke kita, menyortir sampah, digiling, terus dijual ke pabrik. Sederhana saja kok Mas"

"kalau duka-nya Pak?" tanya saya.

"dukanya itu kadang pemulung yg setor suka main curang. Misalnya sampah polybag diisi tanah lumpur biar tambah berat. Terus mereka suka kasbon tapi ndak pernah setor lagi alias kabur. Malah ada yg sudah saya modali sepeda pancal, tapi justru setor barangnya ke orang lain. Adakalanya pabrik juga suka mengulur-ulur pembayaran, padahal modal saya kan terbatas, tapi itu ndak semuanya kok Mas, buktinya saya masih bisa kerja sampah plastik" katanya sambil tersenyum.

Singkat cerita, siang itu saya beruntung sekali mendapatkan teman seperjalanan yang enak diajak ngobrol, hingga ndak kerasa bus sudah memasuki kawasan Medaeng. Bus itupun segera berhenti beberapa saat, menurunkan penumpangnya, dan itu membuat udara terasa semakin panas. Sayapun lalu melepas kaca mata dan topi bordir yg sudah saya pakai sejak berangkat tadi pagi.
Dan tanpa saya sadari, ter-urailah rambut saya yg waktu itu masih sepanjang bahu yg sedari pagi tersembunyi rapi di dalam topi. Bapak itupun setengah terkejut menatap saya dalam-dalam.

"Gareng..??!" Bapak itu menyerukan nama panggilan saya ketika masih menjadi preman dulu... "koen iku Gareng kan??" serunya penuh rasa penasaran.

"iya Pak.. saya memang Gareng, sampeyan sopo??"

"aku Cak Tarjo Rungkut, anak buahe Cak Rukin"


Akhirnya tanpa bisa mengelak lagi, sayapun terpaksa mengakui bahwa saya memang Gareng, Sang Mantan Preman Bungurasih juga. Dan obrolanpun berlanjut dengan menggunakan bahasa terminalan yg sebenarnya sangat kaku buat lidah wong kulonan seperti saya ini.

"Jianc**... ngono ket mau koen mbidhek ae cangkemmu..!"

"sepurane Cak.. polae aku yo wis gak nyopet maneh, aku wis tobat. Aku yo rodok lali mbarek pheno, lha pheno sak iki wis dadi wong sogih ngono, gawanane hape wapik.."

"sogih apane..?? nyambut naendi koen sak iki??"


Dan bla bla bla... obrolanpun berlanjut sebegitu serunya. Dari sekedar mengenang masa lalu sampai membahas tentang pekerjaan yg saat ini sama-sama dilakoni. Dan dari obrolan sekejap itulah akhirnya saya terinspirasi untuk segera mewujudkan obsesi saya waktu itu. Saya yakin saya pasti bisa. Buktinya ya Cak Tarjo tadi. Meskipun SMP ndak tamat, tapi sekarang dia sudah bisa berdiri sendiri, mengelola bisnis sendiri. Sedangkan saya. Saya lulusan STM, punya ketrampilan khusus, masak saya ndak bisa seperti dia. Apalagi sekarang saya sudah berpenghasilan tetap, hasil menjabat sebagai salah satu operator mesin bubut di salah satu perusahaan ternama di Surabaya. Masak saya ndak bisa mewujudkan obsesi saya itu. Saya pasti bisa menyisihkan sebagian dari gaji saya untuk mewujudkan obsesi saya itu. Saya pasti bisa. Lihat saja, beberapa tahun lagi saya pasti sudah bisa memiliki bengkel bubut sendiri, berikut mesin dan peralatan lainnya. Itu tekad saya.
Ndak ada yg ndak mungkin, selama kita punya keyakinan, dan masih mau berusaha, Allah pasti akan membukakan jalan-Nya.

Dan demikianlah akhir dari kisah Sang Mantan Copet itu. Berkat pertemuan tersebut, akhirnya saya semakin rajin menyisihkan sebagian dari gaji saya untuk mewujudkan cita-cita besar itu.
Doakan saya ya Sahabatku semua, semoga dalam beberapa tahun ke depan, obsesi saya itu segera terwujud, amin.

Wassalaamu 'alaikum wr.wb. 


3 komentar:

  1. kita saling berdo'a mas.. saya juga lagi ngalami duka menjalani usaha yang baru saya rintis.... cerita sampean menginspirasi saya. dan satu yang pasti bukan hanya saya saja yg mengalami fase seperti ini. OK cak nothing impossible....

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus