Kasih Sayang Rasulullah Saw Kepada Istrinya


Orang yang mempelajari sejarah hidup Rasulullah saw. maka ia akan menemukan bahwa Rasulullah saw. adalah orang yang sangat memperhatikan isterinya, menjaganya, dan memberikan cinta kepadanya.
Banyak sekali contoh tentang hal tersebut, Rasulullah saw. adalah orang yang pertama menghiburnya ketika isterinya bersedih, menghapus air matanya, mengetahui perasaannya, tidak memojokkannya dengan kata-kata yang tidak enak di dengar,  beliau saw. mendengarkan pengaduannya, meringankan kesedihannya, bertamasya dan berlomba dengannya, mempertimbangkan usulannya, menghormati pribadinya tidak merendahkannya ketika terjadi musibah atau masalah, bahkan beliau saw. memberitahukan cintanya kepadanya dan bahagia dengan cinta tersebut, berikut adalah beberapa contoh kasih sayang Rasulullah saw. terhadap isteri-isterinya:

Mengetahui perasaannya
Rasulullah saw. bersabda kepada Aisyah Ra. : ”Sesungguhnya saya mengetahui jika kamu senang terhadap saya, dan jika kamu sedang marah kepadaku, Aisyah berkata: dari mana Baginda mengetahuinya? Rasulullah saw. menjawab: adapun jika engkau sedang senang terhadapku, maka kamu akan mengatakan ‘tidak’ dan demi Tuhan (nya) Muhammad! Dan jika kamu sedang marah maka kamu akan mengatakan ‘tidak’ dan demi tuhan (nya) Ibrahim as.! Aku (Aisyah as.) berkata: ya, betul itu..”.
(HR. Aisyah as. , al muhaddits: Muslim, Hadits shahih, sumber: al Musnad as Shahih, Hal atau no: 2439).
Rasulullah saw. Memperhatikan rasa cemburunya dan cintanya
Hadits dari Ummu salamah ra. Bahwasanya ia membawakan Rasulullah saw. dan para sahabatnya satu piring makanan, kemudian Aisyah ra. Datang dengan memakai pakaian (kisaa’), dan sedang membawa fahr (sebuah batu), dan menggunakan fahr tersebut memecahkan piring (yang di bawa oleh Ummu Salamah), kemudian Rasulullah saw. mengumpulkan ke dua pecahan piring tersebut, dan Beliau saw. bersabda: “makanlah telah cemburu Ummu kalian dua kali, kemudian Rasulullah saw. mengambil piringnya Aisyah Ra. Dan memberikannya kepada Ummu salamah Ra. Dan memberikan piring Ummu Salam Ra. Kepada Aisyah Ra. “.
 (HR. Ummu Salamah Ra., Hadits Shahih, al Muhaddits al Baany, sumber: shahihu Nasaai, Hal atau no: 3966).
Rasulullah saw. memahami kelemahannya dan tabiatnya
Rasulullah saw. bersabda: “Aku berwasiat kepada kalian mengenai wanita,  karena perempuan di ciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), sesungguhnya sesuatu yang paling bengkok pada tulang rusuk adalah bagian atasnya, jika kamu (memaksanya) supaya lurus, maka kamu akan memecahkannya, dan jika kamu membiarkannya bengkok maka ia akan senantiasa bengkok, maka aku berwasiat kepada kalian (peliharalah dengan baik) para wanita”.
(HR. Abu Hurairah Ra., Hadits Shahih, Sumber: al Jaami’u Sshahih, al Muhaddits: Bukhari, Hal atau no: 3331).
Hadits diatas bukan sebagai celaan terhadap kaum hawa (wanita) sebagaimana yang di pahami oleh sebagian orang,  akan tetapi untuk memahamkan kaum pria tentang tabi’at seorang perempuan.
Dalam hadits tersebut terdapat suatu pemahaman yang sangat menakjubkan mengenai tabiat seorang perempuan, dan juga di dalamnya terdapat suatu isyarat bahwa boleh membiarkan seorang perempuan sesuai dengan tabi’atnya (mengikuti karakternya) dalam hal-hal yang hukumnya Mubah (boleh), akan tetapi tidak boleh membiarkannya larut dalam tabi’atnya (karakternya)  jika hal tersebut dapat membuat dia berbuat suatu yang tercela seperti maksiat dan meninggalkan hal-hal yang wajib.
Rasulullah saw. mengadu dan bermusyawarah dengannya.
Rasulullah saw. bermusyawarah dengan isteri-isterinya mengenai hal-hal yang penting, diantaranya Rasulullah saw. bermusyawarah dengan Ummu Salamah Ra. Pada ” Shulhul Hudaibiyah”. (perdamaian Hudaibiyah),  Ketika Rasulullah saw. telah selesai menulis hal-hal yang beliau saw. sepakati dengan pihak kaum Quraisy, yaitu perjanjian Hudaibiyah tahun Hudaibiyah, beliau bersabda kepada para sahabatnya: “berdirilah kalian semua, berkorbanlah (potong hewan kurban), dan bertahallul –lah (cukur rambut), beliau saw. bersabda: tidak ada seorangpun dari mereka yang berdiri, sampai beliau mengatakan hal tersebut tiga kali, ketika tidak ada satupun dari mereka yang berdiri, maka beliaupun masuk dan menemui Ummu Salamah Ra. kemudian menceritakan hal tersebut kepadanya,  maka Ummu Salamah mengatakan kepadanya: Wahai Nabi Allah !, keluarlah dan jangan bicara dengan siapapun dari mereka, sampai Baginda memotong hewan kurban milik Baginda dan panggillah tukang cukur Baginda dan bercukurlah, beliaupun saw. berdiri dan tidak berbicara dengan siapapun dari mereka, sampai beliau saw. selesai melakukan hal tersebut. Maka ketika mereka (para sahabat)  melihat apa yang telah di lakukan Rasulullah saw., merekapun berdiri dan memotong hewan kurbannya (damnya),  dan mereka saling bercukur-cukuran, sehingga hampir saja mereka salaing membunuh di karenakan ke samaran”.
 (HR. Ummu Salamah Hindun Binti Abi Umayyah Ra., Hadits Mutawatir, al Muhaddits: Ibn jarir at Tabari, Sumber: Tafsir At Tabari, Hal atau no: 2/293).
Menunjukkan kecintaanya dan kesetiaannya kepadanya
Rasulullah saw. bersabda kepada Aisyah Ra. Pada hadits Ummu Zar’I t Thawil Yang di riwayatkan oleh Imma Bukhari: “ Saya untukmu seperti Abi Zar’I terhadap Ummu Zar’I “ artinya: kesetiaan dan cinta saya kepadamu seperti kesetiaan dan cinta  Abi Zar’I, kemudian Aisyah Ra. Berkata: demi Ayah dan Ibuku Engkau lebih baik daripada Abi Zar’I terhadap Ummu Zar’I”.
(HR. Aisyah Ra., Hadits Shahih, al Muhaddits: Bukhari, sumber: Al Jaami’ As shahih, hal atau no: 5189).
Memanggilnya dengan panggilan yang baik
Rasulullah saw. memanggil Aisyah Ra. Dengan panggilan: Ya ‘Aisy.., ini Jibril as. Mengucapkan salam untukmu, maka aku (Aisyah Ra.) berkata: atasnya salam dan Rahmat Allah swt. dan berkah-Nya kepadanya, Baginda melihat apa yang aku tidak lihat. Yang dia maksud Rasulullah saw.
Terkadang beliau saw. memanggil Aisyah Ra. Dengan panggilan “wahai Humairah” , kata “humairah” ialah bentuk tashgir (diminutif) dari kata al Hamraa’ artinya yang putih.
(HR. Aisyah Ra., Hadits sanadnya shahih, al Muhaddits: Ibn Hajar al Asqalani, sumber: Fathul baari oleh Ibn hajar al Asqalaany, no atau hal: 515/2).
Rasulullah saw. makan dan minum bersamanya
Aisyah Ra. Berkata: “ketika saya sedang haidh saya minum, kemudian minuman saya di ambil oleh Rasulullah saw., kemudian beliau saw. meletakkan mulutnya di tempat bekas mulut saya, kemudian beliau minum, saya sedang menggigit sisa-sisa daging yang terletak di tulang sementara saya sedang haid, kemudian (tulang) tersebut di ambil oleh Rasulullah saw. , kemudian beliau saw. meletakkan mulutnya pada tempat bekas mulut saya”.
(HR. Aisyah Ra., Derajat hadits: shahih, Muhaddits: Muslim, Sumber: al Musnad Shahih, Hal/no: 300).
Rasulullah saw. tidak pernah mengeluhkan keadaan isterinya.
Aisyah Ra. Berkata: “Saya menyisir rambut Rasulullah saw. ketika saya sedang haid”.
(HR. Aisyah Ra., Derajat hadits: Shahih, al Muhaddits: al Bukhari, sumber: al Jaami’ shahih, Hal/no: 295).
Rasulullah  saw. tidur dan bersandar di kamar isterinya.
Aisyah Ra. Berkata: “Rasulullah saw. bersandar di kamarku ketika aku sedang haid, kemudian beliau membaca al Qur’an”.
(HR. Aisyah Ra., Derajat hadits: Shahih,
 al Muhaddits: Bukhari, Sumber: al Jaami’ shahih, Hal/no: 297).

Rasulullah saw. bertamasya dengan isterinya
Adalah Rasulullah saw. ketika hendak melakukan perjalanan maka beliau saw. mengundi isteri-isterinya , kemudian Aisyah Ra. Dan Hafshah Ra. Namanya di undi, lalu nama keduanya keluar secara bersamaan. Maka pada malam hari Rasulullah saw. berjalan di temani Aisyah Ra. Dan beliau ngobrol dengannya, maka Hafshah Ra. Berkata kepada Aisyah Ra. : Bagaimana kalau malam ini kamu menunggangi unta saya dan saya menunggangi unta kamu dan kita sama-sama memperhatikan (apa yang akan di lakukan oleh Rasulullah saw.)? Aisyah menjawab: baik, maka Aisyahpun menunggangi unta Hafshah. Sementara Hafshah menunggangi unta Aisyah. Kemudian Rasulullah saw. mendatangi unta Aisyah yang sementara di tunggangi oleh Hafshah, Beliau saw. mengucapkan salam kepadanya dan berjalan bersamanya, sampai mereka singgah, Aisyah Ra. Tertinggal jauh diapun cemburu, ketika mereka singgah (pada suatu tempat) maka Aisyah Ra. Meletakkan kakinya pada rumput-rumput yang ada (memukul-mukulkannya ke tanah), kemudian ia berkata: Ya Tuhan ! biarkanlah kalajengking menyengat saya atau ular mematuk saya.  Rasul-Mu! dan saya tidak  dapat mengatakan sesuatupun kepadanya”.
(HR. Aisyah Ra., Hadits Shahih, al Muhaddits: Muslim, sumber: al Musnad as Shahih, Hal/No: 2445).
Rasulullah saw. membantu isterinya mengerjakan pekerjaan rumah
Aisyah Ra. Di tanya: mengenai apa yang di lakukan Rasulullah saw. di rumahnya? Aisyah Ra. Menjawab: beliau saw. membantu isterinya dalam menyelesaikan pekerjaan rumah, dan jika beliau saw. mendengarkan adzan beliaupun keluar (ke mesjid)”.
(HR. Aisyah Ra., Hadits Shahih, al Muhaddits: Bukhari, Sumber: al Jaami’ as Shahih, Hal/No: 5363).
Rasulullah saw. mengerjakan sesuatu yang bisa beliau lakukan sendiri untuk meringankan beban isterinya
Aisyah Ra. Di tanya mengenai apa yang di lakukan Rasulullah saw. di rumahnya? Aisyah menjawab: beliau saw. mencuci sendiri pakaiannya, memeras susu kambingnya, dan melayani dirinya sendiri”.
 (HR. Aisyah Ra.,  Hadits Shahih, al Muhaddits: al Baany, Sumber: Shahihul Jaami’, Hal/No: 4996).
Aisyah Ra. Juga mengatakan bahwa: Rasulullah saw. sendiri yang menjahit bajunya, menambal sandalnya dan mengerjakan seperti apa yang di lakukan suami-suami yang lain di rumahnya”.
(HR. Aisyah Ra., Hadits shahih, al Muhaddits: al Baany, Sumber: Shahihul Jaami”, Hal/No: 4937).
Menahan diri  (agar tidak marah) untuk kebahagiaannya (pada hal-hal yang boleh)
Abu Bakar Ra. Masuk ke rumahnya Aisyah Ra. Sementara terdapat dua anak perempuan yang sedang memukul rebana, dan keduanya menyanyi, sementara Rasulullah saw. sedang menutup kepalanya dengan kainnya, kemudian beliau saw. membuka penutup di wajahnya dan mengatakan: wahai Abu Bakar biarkan saja! Hari ini adalah hari raya, yaitu hari-hari Mina, sementara Rasulullah saw. pada waktu itu berada di Madinah”.
(HR. Aisyah Ra., Hadits Shahih, al Muhaddits: al Baany, Sumber: Shahihu nasaa’I, Hal/No: 1596).
Rasulullah saw. cinta kepada isteri-isterinya
Rasulullah saw. sangat cinta dan sayang terhadap Khadijah Ra. Sementara saya (Aisyah Ra.) tidak pernah bertemu dengan Khadijah, Aisyah Ra. Berkata: jika Rasulullah saw. memotong seekor kambing, maka beliau saw. bersabda: kirimkanlah (dagingnya) untuk kerabat-kerabat Khadijah. Aisyah Ra. Berkata: dan pada suatu hari aku marah, dan aku mengatakan: Khadijah? Lalu Rasulullah saw. bersabda : sesungguhnya saya telah di karuniai cintanya”…
(HR. Aisyah Ra., Hadits shahih, al Muhaddits: Muslim, sumber: al Musnad as Shahih, hal/no:2435).
74712- jika beliau saw. memotong kambing, beliau saw. bersabda: kirimkanlah kepada kerabat-kerabat Khadijah”.
 (HR. Aisyah Ra., Hadits Shahih, al Muhaddits: Muslim, Sumber: Shahihul jaami’, Hal/No: 4722).
Rasulullah saw. memuji isterinya
“Kelebihan Aisyah Ra. Di bandingkan isteri-isterinya yang lain seperti bandingannya Tsaried (bubur, roti yang di remuk dan di rendam dalam kuah) dengan makanan-makanan yang lain”.
(HR. Anas Bin Malik Ra., Hadits Shahih, al Muhaddits: Muslim, Sumber: al Musnad as Shahih, Hal/No: 2446).
Rasulullah saw. bahagia ketika isterinya bahagia
Aisyah Ra. Berkata: pada suatu hari Rasulullah saw. pulang dari suatu peperangan sementara  saya menutupi sesuatu, lalu angin bertiup maka terbukalah kain penutup tersebut dan kelihatanlah boneka-boneka mainanku, Rasulullah saw.pun bertanya: apa ini? Aisyah Ra. Menjawab: ini adalah bonekaku (mainanku), kemudian beliau pun bertanya lagi: apa yang terdapat di tengah-tengahnya ini? Aku menjawab: itu adalah kuda, beliau saw. bertanya lagi: apa yang terdapat di tubuhnya ini? Aku menjawab: itu adalah dua sayap, beliau bersabda: kuda mempunyai dua sayap? Aku berkata: apakah baginda Rasulullah saw. tidak pernah mendengar bahwasanya Sulaiman bin Daud mempunyai seekor kuda yang punya sayap. Rasulullah saw. pun tertawa sehinnga nampak gigi gerahamnya”.
(HR. Aisyah Ra., Hadits Shahih, al Muhaddits: al Baany, Sumber: Ghayatul maram, Hal/No: 129).
Rasulullah saw. memperhatikan akhlak yang baik dari isteri-isterinya
…jika tidak di sukai salah satu dari perangainya (si isteri) mungkin anda dapat menyukai perangainya yang lain…
(HR. Muslim, Hadits Shahih, al Muhaddits Muslim, sumber al Musnad as Shahih, Hal/No: 1469).
Tidak menyebarkan rahasia-rahasianya (baik dari pihak isteri atau suami)
Sesungguhnya orang yang paling jelek (jahat) posisinya di sisi Allah pada hari kiamat ialah: suami yang membuka rahasia isterinya (mempermalukannya), dan isteri yang mempermalukan suaminya, dan menyebarkan rahasianya”.
 (HR. Abu Sa’id al Khudry, Hadits Shahih, al Muhaddits Muslim, Sumber: al Musnad Shahih, Hal/No: 1437).
Rasulullah saw. tidak menyaikiti atau memukul isterinya
Rasulullah saw. tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya, Beliau saw. tidak pernah memukul isterinya, dan juga pembantunya, kecuali jika beliau sedang berjihad di jalan Allah Swt. (berperang….
(HR. Aisyah Ra., Hadits Shahih, al Muhaddits Muslim, sumber: al Musnad as Shahih, Hal/No: 2328).
Rasulullah saw. menjaga dan mengusap air mata isterinya
Shafiyah Ra. Bersama dengan Rasulullah saw. pada suatu perjalanan, lalu ia lambat di dalam perjalanan, maka Rasulullah saw. menemuinya sementara ia sedang menangis, dan berkata: baginda memberikan aku unta yang lambat, maka Rasulullah saw. mengusap air mata di kedua matanya dan mendiamkannya”.
(HR. an Nasaa’i).
Rasulullah saw. menyuapi isterinya
Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya kamu tidak akan menafkahkan suatu nafkah yang engkau mengharap dengan nafkah tersebut Ridha Allah, kecuali Allah akan menambahakan dan meninggikan derajatmu, sekalipun hanya suapan yang engkau letakkan di mulut isterimu”.
(al Muhaddits: Ibn Taimiyyah, Hadits Shahih, Sumber: al Majmu’ fatawa, Hal/No: 30/10).
Rasulullah saw. memperhatikan kebutuhan-kebutuhan isterinya
 Aku bertanya: wahai Rasulullah saw. apa hak isteri terhadap kami (para suami), Beliau Saw. menjawab: memberinya makanan jika kamu makan, memberinya pakaian jika kamu punya pakaian, jangan pukul wajahnya, jangan mencacinya, dan jangan membentaknya kecuali jika kamu di rumah (jauh dari pandangan orang banyak)”.
(HR. Mu’awiyah bin Hidah al Qusyairy, derajat hadits: (di syaratkan dalam al Muqaddimah) bahwasanya  hadits ini adalah hadits shahih sesuai dengan jalur ahlul hadits, al Muhaddits: Ibn Daqiq al ‘id, Sumber: al Ilmam, Hal/No: 2/655).
Rasulullah saw. memilihkan nama-nama yang baik untuk isterinya
Aisyah Ra. Berkata kepada Rasulullah saw. : Ya Rasulullah saw. setiap isteri-isterimu mempunyai kuniyah (gelar) kecuali saya, lalu Rasulullah saw. berkata kepadanya: berilah dirimu kuniya dengan nama anakmu Abdullah yakni Abdullah Ibn Zubair, kamu sekarang adalah Ummu Abdullah, berkata: maka senantiasa ia di gelar dengan sebutan Ummu Abdullah sampai ia wafat sementara ia tidak pernah melahirkan”.
(HR. ‘Urwa bin Zubair, sanadnya shahih, al Muhaddits al Baany, sumber: silsilatu ahaaditsu as Shahihah, Hal/No: 1/255).
Rasulullah saw. mencintai isterinya dan menghormati keluarganya
Rasulullah saw. mengutus ‘Amru bin ‘Ash Ra. dalam suatu peperangan zaatu ssalaasil , ia berkata: lalu aku mendatanginya kemudian aku berkata: siapa yang anda paling sukai? Beliau saw. menjawab: Aisyah, aku bertanya lagi kalau dari golongan laki-laki? Beliau saw. menjawab: ayahnya (yaitu Abu Bakar Ra.), aku bertanya lagi: kemudian siapa lagi? Beliau saw. menjawab: Umar, kemudian beliau menyebutkan beberapa orang , lalu aku diam khawatir beliau akan menjadikanku paling terakhir dari mereka (dari nama-nama yang telah di sebutkan)”.
(HR. Abu Utsman an Nahdy, Hadits Shahih, Muhaddits: Bukhari, sumber: al Jaami’ as Shahih, Hal/No: 4358).
Rasulullah saw. tidak mencacinya ketika terjadi masalah
Aisyah Ra. Berkata: adalah Rasulullah saw. ketika ingin melakukan perjalanan maka beliau mengundi nama-nama para isterinya maka barangsiapa dari mereka yang keluar namanya (undiannya) maka dialah yang berhak menemaninya dalam perjalanan, dan ketika terjadi perang Bani Mushtalaq undian (nama) saya keluar, maka akupun keluar bersamanya. Aisyah Ra. Berkata: perempuan-perempuan pada waktu itu memakan al ‘alq (sepotong daging) tidak menggemukkan, dan ketika melakukan perjalanan maka saya mempunyai unta dan saya duduk di dalam tenda (yang di letakkan di atasnya), kemudian beberapa orang datang lalu membawaku dengan mengangkat bagian bawah tenda kemudian mereka mengangkatnya, lalu mereka meletakkannya di atas punggung unta dan mengikatnya dengan tali setelah itu mereka pergi.
Aisyah Ra. Berkata: ketika Rasulullah saw. selesai dari perjalanannya maka kafilahpun berangkat (untuk pulang), dan ketika mereka telah mendekati Madinah mereka singgah di suatu tempat dan bermalam di tempat tersebut beberapa malam. Kemudian setelah itu ada izin untuk melanjutkan perjalanan maka orang-orangpun siap-siap untuk berangkat sementara saya keluar untuk melaksanakan hajat saya dan di leher saya terdapat sebuah kalung, dan ketika saya telah selesai dari membuang hajat, kalung tersebut lepas dari leher saya dan saya tidak tau jatuh di mana?, lalu aku kembali ke tempat barang-barang dan mencari kalung saya tapi aku tidak menemukannya, sementara orang-orang telah siap-siap untuk berangkat, kemudian aku kembali ke tempat aku membuang hajatku tadi lalu aku mencarinya sampai aku menemukannya.
 kemudian datang orang-orang yang bertugas mempersiapkan unta saya – dan mereka telah selesai dari persiapannya- lalu mereka mengangkat tenda, mereka mengira saya berada di dalam tenda tersebut sebagaimana yang telah saya lakukan sebelumnya (saya berada di dalam tenda tersebut), mereka pun mengangkatnya dan mengikatnya di atas punggung unta, dan mereka tidak ragu kalau saya ada di dalamnya lalu mereka menuntun unta dan berangkat…!!!!
 Kemudian aku kembali ke tempat para prajurit (setelah ia menemukan mencari kalungnya di tempat ia membuang hajatnya) akan tetapi aku tidak menemukan siapa-siapa lagi? Seluruhnya telah berangkat. Aisyah Ra. Berkata: lalu aku menggulung jilbabku dan tidur di tempatku, dan saya mengetahui bahwa kalau saya tertinggal,  maka orang-orang akan datang mencari saya, demi Allah! Saya sedang tidur, dan Marwan bin Mu’atthal as Salamy lewat di depan saya, beliau juga terlambat karena melaksanakan beberapa hajatnya, maka dia tidak menginap bersama dengan orang-orang yang lain, kemudian ia melihat bayangan-bayangan hitam iapun mendekat dan berdiri di depan saya –dan ia melihatku sebelum saya mengenakan  hijabku-dan ketika ia telah melihatku iapun berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun ini adalah isteri Rasulullah saw.? dan saya sedang berbantalkan dengan kainku..!!! ia berkata: apa yang membuat anda terlambat semoga Allah merahmatimu? Aisyah Ra. Berkata: aku tidak pernah menjawab pertanyaannya, kemudian ia mendekati unta dan berkata: naiklah! Dan iapun menjauh dari saya. Aisyah Ra. Berkata: dan aku menunggangi unta tersebut dan ia menuntun unta berjalan mencari orang-orang yang lain, demi Allah ! kami tidak menemukan  yang lain,  aku tidak merasa kehilangan sampai ketika subuh hari mereka turun, dan ketika mereka telah tenang datanglah seseorang yang menunutun untaku, maka mulailah orang-orang yang suka menyebarkan kebohongan mengatakan sesuatu, dan kamp militer berguncang, demi Allah aku tidak mengetahui  sedikitpun (tentang gossip yang menyebar).
Kemudian kami tiba di Madinah…tidak seorangpun yang mengabarkan kepadaku tentang hal tersebut, sementara berita tersebut telah sampai kepada Rasulullah saw. dan kepada kedua orang tuaku, sementara mereka tidak membicarakan hal tersebut kepadaku sedikitpun , hanya saja saya merasakan sedikit keanehan dari Rasulullah saw. mengenai kelembutannya kepadaku tentang  pengaduan ini, maka aku mengingkari hal tersebut darinya, jika beliau saw. masuk dan saya bersama dengan ibu saya yang merawatku, beliau saw. berkata: bagaiaman kabar kalian? Tidak lebih dari itu.
Aisyah Ra. Berkata: sampai aku marah kemudian aku mengatakan: wahai Rasulullah! Ketika aku telah melihat beliau sangat tertutup terhadapku: jika anda mengizinkan saya akan pindah ke rumah ibuku? Beliau saw. menjawab: tidak mengapa, Aisyah Ra. Berkata: maka aku kerumah ibuku sementara saya belum mengetahui apa yang telah terjadi, sehingga aku sembuh dari sakitku setelah berlalu lebih dari 20 hari, kami orang-orang arab tidak membuat al kanf  (wc atau semacamnya) di dalam rumah kami, sebagaimana  yang di lakukan oleh orang selain arab, kami tidak menyukainya, akan tetapi kami keluar ke tempat yang luas di madinah, dan setiap perempuan keluar di malam hari untuk membuang hajatnya.
 Pada suatu malam aku keluar untuk melaksanakan beberapa hajatku dan saya di temani oleh Ummu Misthah, demi Allah! Ia berjalan bersama saya, tiba-tiba ia tersandung...lalu ia berkata: tersungkur Misthah? Maka aku mengatakan: sungguh tidak menyenangkan Demi Allah! Apa yang telah engkau katakan terhadap seseorang dari orang-orang muhajirin yang menyaksikan perang Badar”!!! ia berkata: apakah berita itu tidak sampai kepadamu wahai putri Abu Bakr Ra. ?? aku bertanya: berita yang mana? Maka iapun menceritakan aku terhadap apa yang telah di sebarkan oleh orang-orang ifki  (Yang suka membuat kebohongan), aku bertanya lagi? Sunnguhkah hal ini telah terjadi? Ia menjawab: iya, demi Allah! hal ini telah terjadi, Aisyah berkata: Demi Allah! Aku tidak mampu untuk membuang hajatku dan akupun kembali, demi Allah! Aku senantiasa menangis sampai aku mengira bahwasanya tangisan akan memecahkan hatiku.
Aku berkata kepada ibuku: semoga Allah mengampunimu, orang-orang telah saling bercerita terhadap apa yang terjadi dan ibu tidak menceritakan kepadaku tentang hal tersebut sedikitpun? Ia menjawab: wahai putriku!!  Jangan kamu terlalu bersedih, hal ini sering terjadi jika seorang perempuan yang cantik dan di cintai oleh suaminya, sedangkan ia mempunya madu, maka mereka akan saling bercerita (gossip) demikian juga orang-orang lain, Aisyah Ra. berkata: Rasulullah saw. bangkit dan berpidato di hadapan orang banyak, sementara saya tidak mengetahui hal tersebut, beliau saw. memuji Allah swt. kemudian bersabda: wahai sekalian manusia! Mengapa seseorang menyakiti aku dengan memfitnah keluargaku mereka mengatakan atas diri mereka yang tidak benar? Demi Allah,  aku mengenal mereka bahwa mereka itu adalah orang-orang yang baik, mereka mengatakan hal tersebut terhadap seseorang, demi Allah swt. Aku tidak mengenal dia kecuali ia adalah orang yang baik, dan ia tidak masuk ke dalam rumah dari rumahku kecuali ia bersamaku!
Aisyah Ra. Berkata: hal ini di besar-besarkan oleh Abdullah bin Ubay bin salul dari suku Khazraj, bersama dengan Misthah dan Hamnah binti Jahasy karena saudarinya yaitu Zainab binti Jahasy adalah termasuk isteri Rasulullah saw. Tidak terdapat dari isteri-isteri Rasulullah saw. Yang menandingi posisi saya di sisi Rasulullah saw. Dari dia, namun Zainab binti Jahasy Ra. Allah swt. Menjaganya dengan agamanya (imannya yang kuat) maka ia tidak mengatakan sesuatu kecuali hal yang baik, adapun Hamnah (saudarinya) ia menyebarkan kebohongan ini karena posisi adiknya yang menjadi isteri Rasulullah saw.
Maka ketika Rasulullah saw. Mengatakan perkataannya (pidatonya) tersebut Usaid bin Khudair mengatakan: “wahai Rasulullah ! jika mereka dari kaum Aus maka kami akan membunuh mereka, dan jika mereka dari kaum kami Khazraj maka perintahkanlah kami dengan perintahmu, demi Allah! Mereka memang pantas untuk di penggal kepalanya.
Kemudian Sa’ad bin Ubadah Berdiri kemudian ia berkata: demi Allah, kamu telah berdusta, kalian tidak akan memenggal leher mereka, sesungguhnya kamu tidak mengatakan perkataan tadi kecuali engkau telah mengetahui bahwasanya mereka dari suku Khazraj, seandainya dari kaummu maka kamu tidak akan mengatakan hal tersebut.
 Maka Usaid mengatakan: Demi Allah, kamu telah berdusta, akan tetapi kamu adalah seorang munafik yang  memperdebatkan tentang orang-orang munafik…dan manusia saling menyerang sehingga hampir saja kedua suku ini saling bertempur, kemudian Rasulullah saw. Turun (dari mimbarnya) dan masuk menemui saya, dan beliau saw. Memanggil Ali bin Abi Thalib Ra. Dan Usamah bin Zaid Ra. Kemudian Rasulullah saw. Bermusyawarah dengan keduanya, adapun Usamah Ra. Maka ia memuji (Aisyah Ra.) dengan baik, kemudian ia mengatakan: Wahai Rasulullah! Ia adalah isterimu, dan kami tidak mengenal mereka kecuali mereka adalah orang-orang yang baik, dan berita ini adalah suatu kebohongan dan kebatilan!
 Adapun Ali bin Thalib Ra. Ia mengatakan: “wahai Rasulullah, perempuan masih banyak dan baginda mampu untuk mencari penggantinya, dan tanyalah al jaariyah (pelayan perempuan) maka ia akan membenarkanmu, kemudian Rasulullah saw. Memanggil Barirah dan menanyainya, kemudian Ali Ra. Berdiri dan memukulnya dengan pukulan yang sangat keras dan mengatakan: benarkan Rasulullah saw. ,maka Barirah mengatakan: demi Allah, saya tidak mengetahui kecuali ia (Aisyah Ra.) adalah seorang yang baik, dan saya tidak melihat aib terhadap diri Aisyah Ra. Kecuali saya sedang membuat adonanku, lalu aku memerintahkannya untuk menjaga adonan itu, kemudian ia tertidur dan datang kambing memakannya!
Aisyah Ra. Berkata: kemudian Rasulullah saw. Masuk menemuiku dan saya sedang bersama dengan kedua orang tuaku, bersama saya seorang perempuan dari Anshar, saya menangis dan iapun menangis, maka beliau saw. Duduk dan bertahmid memuji Allah swt., kemudian beliau saw. Bersabda: wahai Aisyah sesungguhnya telah sampai kepadamu perkataan orang-orang, bertakwalah kepada Allah, jika engkau benar telah melakukan suatu dosa sebagaimana yang di katakana orang-orang, maka bertaubatlah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah swt .menerima taubat hamba-hamba-Nya…
Aisyah Ra. Berkata: Demi Allah, tiadalah beliau saw. Mengatakan hal tersebut sehingga air mataku mengalir, karena aku merasa tidak melakukan tentang hal tersebut, kemudian aku menunggu kedua orang tuaku untuk menjawab mengenai aku, akan tetapi keduanya tidak mengatakan apa-apa!
Aisyah Ra. Berkata: demi Allah, sesungguhnya saya merendahkan diriku sehingga Allah swt. Menurunkan dalam al Qur’an, akan tetapi saya berharap semoga Rasulullah saw. Melihat dalam mimpinya Sesutu yang Allah swt. Mendustakan berita tersebut mengenai saya, agar beliau saw. Mengetahui tentang kesucianku, …Aisyah Ra. Berkata: ketika saya melihat kedua orang tua saya tidak berkomentar, aku berkata kepadanya: kenapa ayah dan ibu tidak  menjawab Rasulullah saw.? Maka keduanya berkata: demi Allah, kami tidak tahu harus menjawabnya dengan apa. Aiysah Ra. Berkata: demi Allah, aku tidak mengetahui sebuah keluarga yang mendapatkan kesedihan sebagaimana yang telah masuk kepada keluarga Abi Bakar di hari-hari tersebut.
 Kemudian Aisyah Ra. Berkata lagi: ketika keduanya tidak jelas sikapnya kepada saya maka aku menangis, kemudian aku berkata: demi Allah, selamanya saya tidak akan bertaubat kepada Allah terhadap apa yang Baginda telah katakan, demi Allah, sesungguhnya saya mengetahui jika saya membenarkan apa yang telah di katakan oleh orang-orang  –sesungguhnya dia (yang menyebarkan kabar bohong) mengetahui bahwasanya saya adalah suci--   maka aku akan mengatakan apa yang tidak terjadi, dan jika aku mengingkari apa yang mereka katakan maka mereka tidak akan mempercayaiku, Aisyah Ra. Berkata: kemudian aku ingin menyebut Nabi Ya’qub as. Akan tetapi aku tidak mengingat namanya, maka aku mengatakan: aku mengatakan apa yang telah di katakana oleh bapaknya Nabi Yusuf as.: maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku, dan Allah sajalah yang di mohon pertolongan-Nya terhadap apa yang mereka katakan, demi Allah, Rasulullah saw. Tidak meninggalkan tempatnya sampai Allah swt. Menurunkan wahyu kepadanya dan beliau saw. berlindung dengan kainnya, kemudian beliau saw. Meletakkan bantal di bawah kepalanya, adapun saya ketika melihat apa yang terlihat, demi Allah, saya tidak takut, sungguh saya telah mengetahui bahwasanya saya suci, dan bahwasanya Allah swt. Tidak menzalimiku.
 Adapun kedua orang tuaku demi yang jiwa Aisyah berada di genggaman-Nya, wahyu belum selesai turun kepada Rasulullah saw. Sampai aku mengira mereka berdua akan meninggal di karenakan khawatir akan turun wahyu dari Allah swt. Yang membenarkan apa yang di katakan oleh orang-orang (mengenai saya), kemudian wahyu dari Allah swt. selesai turunnya kepada Muhammad saw. Maka beliau saw. Duduk, sungguh wajah beliau saw. terlihat Berseri-seri bagaikan mutiara di musim dingin, maka beliau saw. Menyapu keringat yang terdapat di wajahnya, kemudian bersabda: “berita gembira wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah swt. Telah menurunkan ayat mengenai kesucianmu.
 Maka aku mengatakan: segala puji bagi Allah, kemudian Rasulullah saw. Keluar menemui orang-orang kemudian berpidato di depan mereka dan membacakan beberapa ayat kepada mereka:
” Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar”.
(QS. An Nuur: 11).
(perawi: Aisyah Ra., Hadits shahih, terdapat di shahih Bukhari dan Muslim, al Muhaddits: al Baany, sumber: Fiqhi ssirah, hal/no: 288).

Menunggu sebentar (memperlambat) untuk menemui (isterinya) sehingga ia dapat berhias untuknya
Kami kembali bersama Rasulullah saw. Dari suatu peperangan, maka aku terburu-buru dengan untaku, kemudian orang yang di belakangku mendapatiku (berhasil menyusulku), maka untaku bergerak bersama dengan seokar kambing yang bersamanya, dan  untaku berjalan dengan cepat,kemudian (tiba-tiba aku bertemu) dengan Rasulullah saw. Kemudian beliau saw. Bertanya: apa yang membuatumu terburu-buru? Aku menjawab: saya akan melaksanakan akad pernikahan, Rasulullah saw. Bertanya lagi: dengan seorang gadis atau janda? Aku menjawab: dengan seorang janda, Rasulullah saw. Bersabda: kenapa kamu tidak memilih seorang gadis agar kamu bisa bersenang-senang dengannya begitupun dia, ia berkata: maka ketika kami pergi untuk bertemu dengan isteri kami, Rasulullah saw. Bersabda: tunggu sebentar, sampai kalian masuk menemuinya di malam hari, agar dia (isteri) dapat berhias”.
(Perawi: Jabir bin Abdullah Ra., Hadits Shahih, al Muhaddits: al Bukhari, sumber: al Jaami’ ash Shahih, hal/no: 5079).
Rasulullah saw. Merawat sendiri isterinya ketika ia sakit
Adalah Rasulullah saw. Ketika salah seorang dari isterinya sedang sakit, maka beliau saw. Meniupkan untuknya dengan (membaca) al mau’idzaat (surah al ikhlash, surah al Falaq dan surah an Naas), kemudian ketika beliau saw. Sakit yang membuatnya wafat, maka beliau saw. Meniupkan hal tersebut dan menyapukan ke tubuhnya dengan kedua tangannya, karena kedua tangannya mempunyai berkah yang sangat besar di bandingkan dengan kedua tanganku (Aisyah Ra.). dalam riwayat Yahya bin Ayyub: Rasulullah saw. Meniupkannya dengan al al mau’idzaat.
(Perawi: Aisyah Ra., Hadits shahih, al Muhaddits: Muslim, Sumber: al Musnad ash Shahih, hal/no: 2192).
Rasulullah saw. Memberitakan berita gembira untuk isterinya dan membahagiakannya
Jibril as. Mendatangi Rasulullah saw. Dan ia mengatakan: ya Rasulullah, ini Khadijah Ra. Telah datang, dia membawa bejana yang berisikan kuah,  makanan dan minuman, jika ia telah datang menemuimu maka sampaikanlah salam dari Tuhannya dan dari Saya, dan beritakan berita gembira untuknya dengan sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara yang tidak ada kegaduhan dan keletihan di dalamnya”.
(Perawi: Abu Hurairah Ra., Hadits Shahih, al Muhaddits: Bukhari, Sumber: al Jaami’ ash Shahih, hal/no: 3820).
Dari Aisyah Ra.: Rasulullah saw. Bersabda: “Sesungguhnya Jibril as. Mengucapkan salam untukmu”. Aku menjawab: untuknya (salam) dan rahmat Allah swt.
Jibril as. Mendatangi Rasulullah saw. Dan mengatakan: “wahai Rasulullah, ini adalah Khadijah telah datang dan ia membawa makanan dan minuman, jika ia telah menemuimu maka sampaikanlah salam dari Tuhannya dan dari saya, dan beritakan berita gembira dengan dengan sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara yang tidak ada kegaduhan dan keletihan di dalamnya, Maka Rasulullah saw. Memberitakan berita gembira itu kepadanya, dan hal tersebut adalah kebahagiaan untuknya”.
sumber  http://www.rasoulallah.net/v2/document.aspx?lang=indo&doc=5094

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar